Yogyakarta, 21 Januari 2025 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan Maguyubagya Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana di Auditorium Poerbatjaraka. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus apresiasi atas capaian akademik 46 lulusan jenjang magister dan doktor yang mengikuti Wisuda UGM periode II, Januari 2026.
Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan universitas dan fakultas, dosen, serta para wisudawan dan keluarga. Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UGM, Dr. Nursaktiningrum, M.Hum., menegaskan bahwa proses pendidikan pascasarjana tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.
“Proses akademik ini tidak sekadar menghadirkan tesis ataupun disertasi, namun juga pembentukan karakter keilmuan serta intelektual. Ilmu yang kita peroleh akan menjadi bermakna ketika dihidupkan melalui pengabdian, penelitian, serta kontribusi kepada masyarakat,” ujarnya.
Beliau juga menyoroti capaian efisiensi studi pada jenjang doktor. Menurutnya, terdapat lulusan doktor yang mampu menyelesaikan studi dalam waktu relatif singkat.
“Lama studi tercepat pada tingkat doktor, yaitu 3 tahun 4 bulan 7 hari. Ini menunjukkan bahwa untuk menempuh studi doktoral tidak harus dalam jangka waktu yang terlalu lama,” ucapnya.
Berdasarkan data fakultas, wisudawan dengan IPK tertinggi pada jenjang magister diraih oleh Hanina Naura Fadhila dari Program Studi Magister Antropologi dengan IPK 3,93. Sementara itu, masa studi tercepat jenjang magister dicapai oleh Iftinan Rose Putri Safana dari Program Studi Magister Sastra dengan waktu tempuh 1 tahun 2 bulan 8 hari. Pada jenjang doktor, IPK tertinggi diraih oleh Erlin Kartikasari dan Sahruman dari Program Studi Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora dengan IPK 3,77, sedangkan masa studi tercepat dicapai oleh Lalu Erwan Husnan dari program studi yang sama dengan waktu 3 tahun 4 bulan 7 hari.
Mewakili wisudawan berprestasi, Hanina Naura Fadhila dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada fakultas dan para dosen atas ruang akademik yang diberikan selama masa studi.
“Saya berterima kasih kepada fakultas dan para dosen yang sudah memberi kami ruang untuk bersuara kepada kebenaran. Aksi berhari-hari bebas kami lakukan tanpa takut akan adanya sanksi akademik, walau sanksi senyap dari pihak yang tidak suka tetap menghantui. Sementara itu, di ruang kelas kami belajar menyusun logika dan berdialektika menemukan teori dan praktis serta dampak dari fenomena yang terjadi dari manusia berikut kemanusiaannya,” ungkapnya.
Kegiatan Maguyubagya ini tidak sekadar menjadi penanda kelulusan, tetapi juga refleksi atas perjalanan akademik yang menuntut ketekunan, integritas, dan tanggung jawab sosial. Melalui capaian prestasi dan efisiensi studi para lulusan, Fakultas Ilmu Budaya UGM menegaskan komitmennya dalam mencetak insan akademik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga peka terhadap persoalan kemanusiaan dan siap berkontribusi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]



