Yogyakarta, 23 Januari 2026 – Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem literasi yang kuat di Indonesia. Keberadaan toko-toko buku yang tersebar di berbagai wilayah kota menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas membaca dan pembelajaran masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, toko buku di Yogyakarta mengalami perkembangan konsep dengan menghadirkan ruang kopi serta desain interior bernuansa estetik.
Konsep tersebut menjadikan toko buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat distribusi buku, tetapi juga sebagai ruang literasi alternatif yang terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Sejumlah toko buku yang kerap mendapat perhatian di media sosial antara lain Buku Akik, Solusi Buku, Ruang Literasi Yogyakarta, Buku Natan, Namu Buku, Shira Media dan lain-lain. Toko-toko tersebut menghadirkan ruang baca, diskusi, serta aktivitas literasi yang dapat diakses secara luas.
Kehadiran toko buku dengan konsep kreatif ini turut memperkuat budaya literasi di Yogyakarta. Ruang-ruang tersebut dimanfaatkan sebagai tempat membaca, berdiskusi, hingga penyelenggaraan kegiatan berbasis literasi yang melibatkan komunitas dan mahasiswa. Dengan suasana yang nyaman dan inklusif, toko buku berperan sebagai ruang belajar nonformal di luar lingkungan kampus.
Fenomena berkembangnya toko buku estetik di Yogyakarta sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui perluasan akses terhadap sumber bacaan dan ruang belajar yang inklusif. Selain itu, pemanfaatan toko buku sebagai ruang publik kreatif turut mendukung SDGs poin 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, dengan menghadirkan ruang budaya yang aman, ramah, dan berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Melalui keberadaan toko-toko buku dengan beragam konsep tersebut, Yogyakarta terus mengukuhkan perannya sebagai kota literasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta kebutuhan generasi muda.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]


