Siang itu di lahan Kebun Kali Code tanggal 19 September 2026 diselenggarakan rangkaian
acara “Antro Jalan-Jalan” yang diinisiasi oleh kolaborasi dari tim Minat & Bakat (Mikat) dengan Media & Informasi (Medinfo) Kemant periode 2026. Dalam acara ini, delapan peserta yang merupakan sivitas akademika Antropologi UGM duduk menggunakan kursi besi menghadap televisi elektronik bersiap-siap menunggu pemateri yang akan datang. Sambil menunggu pemateri, Ibnu Herli Islamey membuka dan menjelaskan rangkaian acara yang akan dilaksanakan siang itu. Pemateri Antro Jalan-Jalan adalah Muhammad Zamzam Fauzanafi, yang juga merupakan dosen di Antropologi UGM. Zamzam Fauzanafi memulai materi dengan penjelasan rinci mengenai etnofotografi dengan tema “Place-Making”.
Materi disampaikan menggunakan slides PowerPoint, dimulai dengan beberapa foto
perempuan paruh baya yang sedang berjualan. Pemateri menanyakan kepada audiens, dari foto-foto yang ditampilkan, sisi fotografis apa yang kurang? Kemudian peserta menjawab, “close-up”. Jawaban peserta dibenarkan oleh pemateri, dan ditambahkan kalau angle wide juga tidak terdapat dalam foto-foto tersebut. Pembukaan ini merupakan pengantar menuju gambaran dan salah satu tujuan utama dari etnofotografi, yakni menangkap informasi dengan media gambar sebanyak-banyaknya. Selain itu, dalam materi yang disampaikan, dijelaskan pula bagaimana fotografi etnografis memungkinkan dua kemungkinan, yakni potensi untuk memaparkan informasi dan afeksi. Pada pemaparan teoretis, pemateri juga menggunakan konsep camera lucida oleh Roland Barthes.
Kerangka-kerangka tersebut kemudian digunakan sebagai basis praktik dari Antro
Jalan-Jalan itu sendiri, yakni menggunakan unsur etnografis dalam pencarian dan penangkapan gambar. Secara praktik, para peserta tidak hanya semata-mata mengambil foto, tetapi juga diperlukan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya, terkhusus apa yang berhubungan dengan tema place-making. Selain secara informatif, kreativitas akan pilihan-pilihan estetika yang dibebaskan kepada peserta juga perlu mempertimbangkan konteks dari apa yang difoto, sehingga nantinya ketika pameran mereka tidak hanya memamerkan bentuk fotografisnya, tetapi juga menjelaskan wacana dan gagasan place-making yang ditemukan.
Penulis: Leonard Dimas
Foto: Nara Mager
