Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menyelenggarakan wisuda program sarjana dan sarjana terapan periode III Tahun Akademik 2025/2026. Pada periode ini, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa meluluskan sebanyak 11 mahasiswa. Dalam sambutannya, Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Hum., menyampaikan bahwa mayoritas peraih indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi berasal dari Program Studi Sastra Arab. Kendati demikian, terdapat satu mahasiswi dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang berhasil meraih IPK tertinggi pada wisuda kali ini. Mahasiswi tersebut adalah Novia Hikmatul Mubarokah dengan capaian IPK 3,91. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus inspirasi bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.
Pada 26 Mei 2026, dilakukan wawancara dengan Novia secara daring mengenai perjalanan akademiknya. Dalam meraih IPK tinggi tersebut, Novia mengungkapkan bahwa dirinya selalu berusaha aktif belajar dari berbagai sumber. “Belajar tidak hanya sekadar dari buku teks, tetapi dari berbagai sumber. Selain itu, bertukar pikiran dengan teman dari berbagai tingkat, dosen, bahkan di luar lingkup prodi juga perlu untuk menambah wawasan kita,” terangnya. Menurutnya, cara belajar seperti itu membuat proses belajar tidak terasa sebagai beban kewajiban semata, melainkan menjadi ruang untuk bertumbuh dan berkembang.
Tidak hanya aktif dalam bidang akademik, Novia juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi dan pekerjaan paruh waktu. Ia mengaku aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan serta bekerja di penerbitan jurnal Arnawa sebagai staf editor. “Saya juga aktif dalam berbagai organisasi dan bekerja paruh waktu di penerbitan jurnal Arnawa sebagai staf editor,” ujarnya.
Di balik capaian akademiknya, Novia juga menghadapi berbagai tantangan selama masa perkuliahan. Ia menuturkan bahwa semester pertama dan semester empat menjadi masa yang paling berat dalam studinya.
“Semester pertama adalah waktu bagi saya untuk beradaptasi, terutama karena latar belakang saya yang tidak dekat dengan paparan pengetahuan budaya Jawa. Hal ini yang memicu saya untuk melakukan usaha lebih. Lalu, semester empat atau tahun kedua menjadi tahun yang sibuk dengan jadwal mata kuliah yang lebih padat, karena terdapat mata kuliah wajib universitas dan menjadi Badan Pengurus Harian Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa),” jelasnya. Namun, dari berbagai tantangan tersebut, Novia merasa kemampuan manajemen waktunya semakin terasah.
Dalam studi S1-nya, Novia mengambil konsentrasi filologi, yakni ilmu yang mempelajari bahasa, kebudayaan, dan sejarah suatu bangsa melalui naskah-naskah kuno. Menariknya, ia memilih objek penelitian berupa manuskrip koleksi pribadi atau nonlembaga, bukan koleksi perpustakaan maupun instansi tertentu. “Saya memilih objek naskah Layang Ambiya koleksi nonlembaga. Hal ini menarik karena masifnya korpus “Ambiya” di kesusastraan Jawa, tetapi penelitian untuk naskah tersebut masih terbatas. Kisah yang terdapat dalam naskah Ambiya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut karena kaya akan wawasan Islam menurut orang Jawa pada masanya,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai perasaannya setelah berhasil meraih IPK tertinggi, Novia mengaku merasa bangga dan bersyukur atas hasil yang diperolehnya. Baginya, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga. “Motivasi terbesar saya adalah untuk membanggakan keluarga saya karena mereka sudah mempercayai saya untuk menuntut ilmu di perantauan. Walaupun sudah meraih yang terbaik, ada rasa agar jangan cepat puas karena akan ada banyak hal yang perlu dipelajari,” tuturnya. Menurutnya, IPK hanyalah salah satu bekal untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya.
Di akhir wawancara, Novia turut menyampaikan pesan bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tetap menikmati proses selama menjalani perkuliahan. Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak ragu meminta bantuan ketika mengalami kesulitan. “Berkonsultasilah kepada dosen pembimbing akademik dan/atau skripsi bila dirasa perlu teman diskusi. Selain itu, jangan sungkan untuk meminta tolong kepada teman-teman yang lain. Mereka akan sangat membantu,” pesannya.
Secara khusus, Novia juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang menekuni bidang filologi, terutama yang meneliti naskah koleksi nonlembaga. “Menurut saya, ketika ingin melakukan penelitian pada naskah koleksi nonlembaga, kita perlu banyak bertanya tentang pengetahuan naskah kepada pemilik, tidak sekadar meminta izin meneliti saja. Hal itu guna mengetahui peran naskah tersebut dalam kehidupan masyarakat. Upaya itu penting untuk menjaga nilai yang terkandung dalam teks manuskrip,” tambahnya.
Perjalanan Novia Hikmatul Mubarokah selama menempuh studi di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menunjukkan bahwa setiap proses memiliki tantangan dan cerita tersendiri. Di tengah kesibukan akademik, organisasi, hingga pekerjaan paruh waktu, dirinya tetap berusaha menjalani semuanya dengan tekun dan penuh semangat. Capaian IPK tertinggi yang diraihnya pun bukan sekadar angka, melainkan hasil dari proses panjang, dukungan orang-orang terdekat, serta kemauan untuk terus belajar. Harapannya, kisah Novia dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk tetap percaya pada proses yang sedang dijalani dan tidak takut untuk terus berkembang.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
