Yogyakarta, 21 Mei 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Pameran dan Bursa Wayang pada Kamis hingga Sabtu, 21 hingga 23 Mei 2026. Kegiatan yang bertempat di Pusat Kajian Jawa (Pusaka Jawa) UGM ini merupakan bagian dari rangkaian Gadjah Mada Wayang Festival 2026 sekaligus memeriahkan peringatan Dies Natalis ke-80 FIB UGM.
Pameran ini terselenggara sebagai salah satu wujud pelaksanaan program EQUITY Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Pada penyelenggaraan tahun ini, festival tersebut mengusung tema besar bertajuk “Kita. Butuh. Wayang.”. Tema tersebut membawa makna mendalam terkait upaya pelestarian budaya yang harus bersinergi dengan pemberdayaan masyarakat pembuatnya.
Melalui Gadjah Mada Wayang Festival 2026, FIB UGM membangun sinergi seimbang antara ruang pikir akademik UGM dengan denyut nadi para perajin wayang di Dusun Butuh, Sidowarno, Kabupaten Klaten. Berdasarkan konsep acara tersebut, penyelenggara menyampaikan sebuah proklamasi budaya melalui pernyataan resminya.
Selama tiga hari pelaksanaan pameran, pengunjung dapat hadir mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB untuk menikmati berbagai sajian edukasi budaya. Pameran ini menghadirkan beberapa area eksplorasi, meliputi Zona Pameran Foto, Zona Bursa Wayang, serta Zona Audio Visual yang secara khusus menayangkan karya “Butuh Documentary”.
Pada Zona Wayang Display, penyelenggara memamerkan berbagai karya panel dan tokoh pewayangan yang bernilai seni tinggi. Karya yang ditampilkan kepada publik mencakup Panel Ramayana, Arjuna Wiwaha, Dewaruci, Wirata Parwa, Sembadra Larung, Bhagawad Gita, hingga figur Mahapatih Gadjah Mada.
Pelaksanaan Pameran dan Bursa Wayang ini pada akhirnya menegaskan pentingnya menjaga warisan peradaban seraya memajukan perekonomian masyarakat akar rumput. Keterlibatan langsung para perajin lokal memastikan roda ekonomi kreatif tingkat desa terus bergerak berdampingan dengan laju pelestarian tradisi. Langkah nyata ini menjadi fondasi penting bagi pembangunan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan tangguh dalam mempertahankan identitas budayanya di tengah perubahan zaman.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]



