SDGs 4: Quality Education
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Wisuda Sarjana Periode IV TA 2025/2026 pada Selasa, 18 Agustus 2026. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 200 calon wisudawan dan wisudawati FIB UGM yang dijadwalkan akan mengikuti prosesi wisuda universitas pada tanggal 21 Agustus 2026 mendatang.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FIB UGM, Dr. Mimi Savitri, M.A. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas ketangguhan para mahasiswa hingga berhasil menyelesaikan studi. Beliau juga berpesan agar para calon lulusan senantiasa membawa nilai-nilai kebudayaan, pemikiran kritis, dan integritas tinggi saat melangkah ke dunia kerja maupun jenjang pendidikan berikutnya.
Setelah pembukaan, sesi dilanjutkan dengan penyampaian informasi teknis kelulusan dan tata cara pelaksanaan wisuda oleh Staf Layanan Akademik FIB UGM, Yusuf Sulistiyo, S.Psi., M.M.. Dalam sesi ini, mahasiswa mendapatkan penjelasan mendetail terkait alur administratif, pengambilan ijazah, hingga persiapan teknis pada hari wisuda.
Sesi utama pembekalan diisi dengan pemaparan materi motivasi dan career insight oleh Hesti Aryani, S.S., M.A., alumni Program Studi Sastra Inggris FIB UGM yang kini sukses meniti karier di kancah internasional. Hesti saat ini menjabat sebagai Senior Business Development Manager di JANZZ.technology Switzerland sekaligus Director di PT JANZZ Technology Indonesia.
Dalam pemaparannya, Hesti menekankan bahwa lulusan ilmu budaya dan sastra memiliki potensi mendalam yang sangat dibutuhkan oleh industri masa kini, termasuk di sektor Teknologi Informasi (TI). Membagikan pengalamannya bekerja di industri pengembangan Artificial Intelligence (AI)—khususnya untuk fungsi Human Resources (HR) dan analisis data ketenagakerjaan—Hesti menjelaskan bagaimana kemampuan analisis bahasa, pemahaman konteks budaya, dan pemikiran kritis lulusan FIB menjadi aset penting dalam melatih serta mengembangkan sistem kecerdasan buatan.
Ia berpesan kepada para peserta agar tidak berkecil hati atau merasa terbatas hanya karena berasal dari latar belakang humaniora, sebab dunia teknologi modern dan pengembangan AI sangat membutuhkan ketelitian analitis, pemahaman linguistik, serta empati kemanusiaan yang menjadi keunggulan mahasiswa FIB.
Antusiasme peserta terlihat jelas pada sesi tanya jawab saat banyak calon lulusan aktif berdiskusi mengenai strategi transisi karier dari bidang humaniora ke industri teknologi global. Melalui kegiatan pembekalan ini, FIB UGM berharap para calon wisudawan tidak hanya siap secara administratif untuk menghadapi wisuda pada 21 Agustus 2026, tetapi juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mengarungi perwajahan dunia kerja yang terus berkembang pesat.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]
Lima mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, berpartisipasi dalam 2026 Youth Peace & Reunification Golden Bell Quiz (2026 청소년 평화통일 골든벨 대회) yang diselenggarakan oleh The Peace Unification Advisory Council (PUAC) di Jakarta International Korean School (JIKS), Jakarta.
Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari berbagai institusi pendidikan. Selain menguji kemampuan berbahasa Korea, ajang ini juga menjadi sarana bagi peserta untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah, budaya, serta isu-isu perdamaian dan reunifikasi di Semenanjung Korea.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari pihak penyelenggara dan sekolah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Korea, penampilan pembuka, serta berbagai babak kompetisi yang dibagi untuk peserta Korea dan Indonesia. Setelah melalui babak penyisihan, babak kesempatan, hingga babak final, acara ditutup dengan pengumuman pemenang, sesi keakraban antara peserta Indonesia dan Korea, penampilan penutup, serta penyerahan penghargaan.
Pada kompetisi ini, mahasiswa angkatan 2025, Claudia Keishia Piji Swastika, berhasil meraih 장려상 (4th Winner). Sementara itu, mahasiswa angkatan 2024, Irene Xaviera Lovryna, berhasil memperoleh 최우수상 (2nd Winner). Prestasi tersebut menjadi bukti dedikasi dan kerja keras mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi bahasa Korea sekaligus memperluas pemahaman mengenai isu-isu internasional.
Claudia mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian yang diraih.
“Pengalaman yang sangat berkesan terlebih karena ini pertama kalinya mengikuti lomba berbahasa Korea secara luring. Meskipun sempat tidak percaya diri di awal, namun sangat bersyukur karena bisa bertahan sampai 4 besar dari sekitar 130 peserta. Melalui pengalaman kali ini tentu menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar dan berkembang. Terima kasih kepada Prodi, Bu Alfi, serta keluarga yang telah mempercayai, mendukung, dan membantu saya.”
Senada dengan hal tersebut, Irene juga menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan.
“Saya sangat bersyukur karena diberikan kesempatan yang berharga untuk mewakili UGM untuk pertama kalinya di dalam mengikuti lomba Golden Bell tahun ini. Walau awalnya saya cukup pesimis untuk bisa menghafal semua materinya tetapi Puji Tuhan bisa bertahan di Top 2 bukanlah hal yang bisa saya bayangkan sebelumnya. Lalu, saya berterima kasih kepada prodi, kepada Alfi 교수님 yang sudah mempercayakan saya untuk ikut, kepada teman-teman yang juga ikut lomba kemarin, lalu para panitia dan guru JIKS yang sangat suportif. Saya bangga bisa menjadi bagian dari pengalaman ini. Semua usaha, waktu, dan perjalanan yang telah dilalui terbayar lunas di lomba kemarin. Semoga ini bisa menjadi motivasi dan pembelajaran bagi saya ke depannya. 그리고, 내년에도 꼭 다시 도전하고 싶습니다. 정말 감사했습니다!”
Partisipasi dan prestasi yang diraih mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM dalam ajang ini mencerminkan komitmen prodi dalam mendukung pengembangan kompetensi akademik, kemampuan bahasa asing, serta keterampilan komunikasi lintas budaya. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kompetitif, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring dan memperkuat pemahaman antarbudaya.
[Eunike Serafia N.S]
Dua mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Gadjah Mada (UGM), Michelle Anastasia Budiman (angkatan 2022) dan Listu Prajna Anggana (angkatan 2023), terpilih mengikuti Ferris University Exchange Program di Jepang. Program pertukaran pelajar selama satu tahun ini berlangsung mulai Maret 2026 hingga Februari 2027 dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan serta memperdalam pemahaman mengenai bahasa dan budaya Jepang melalui pengalaman belajar secara langsung di Jepang.
Melalui program ini, Michelle dan Listu memperoleh berbagai fasilitas pendukung, termasuk pembebasan biaya kuliah dan biaya fasilitas kampus selama masa studi di Jepang. Selain itu, keduanya juga menerima dukungan beasiswa dari Ferris University untuk menunjang kegiatan akademik dan kehidupan sehari-hari selama mengikuti program pertukaran pelajar.
Ferris University juga menyediakan berbagai bentuk dukungan bagi mahasiswa internasional, seperti program mentor bersama mahasiswa Jepang, tutor akademik, serta fasilitas asrama mahasiswa. Program ini diharapkan dapat memperluas wawasan akademik, meningkatkan kemampuan bahasa Jepang, serta memperkuat pengalaman lintas budaya mahasiswa BKJ UGM di lingkungan internasional.
Keikutsertaan Michelle dan Listu dalam program ini menjadi salah satu bentuk keberhasilan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM dalam mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai peluang internasional dan mengembangkan kompetensi akademik di tingkat global.
[Barra Taura Nursaid]
, 24 Februari 2026, menjadi hari kelulusan bagi sepuluh mahasiswa Sastra Inggris FIB UGM. Kesepuluh wisudawan tersebut adalah Afra Sausan Putri, S.S., Cecilia Ade Natasya, S.S., Jardin Urbania Basundoro, S.S., Shimping Fitriana Dwi Fatmawati S.S., Saidatunnisa, S.S., Khairunisa Diva Dijah Adji, S.S., Maura Thirza Azzahra, S.S., Safira Dwihapsari Pratiwi, S.S., Florinesya Zahwa Raihania, S.S., and Yosafira Alma Kartika, S.S. Upacara wisuda dilaksanakan di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, sebelum para wisudawan dari Sastra Inggris bergeser ke Gedung Poerbatjaraka di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) untuk menghadiri acara Mangayubagya.
Setelah acara Mangayubagya, dua wisudawan dari Sastra Inggris, Maura dan Florinesya, dengan senang hati menceritakan sekilas pengalaman mereka selama perkuliahan dan perasaan mereka di tengah-tengah momentum yang menandai perubahan besar dalam hidup mereka. Maura mengutarakan bahwa ia merasa lega setelah menyelesaikan studinya, tetapi ia tak bisa menampik perasaan bittersweet yang menyelimutinya. “Karena kita udah bakal pisah sama temen-temen kuliah—tapi akhirnya selesai juga,” ujarnya.
Bagi Florinesya, rasa syukur dan senang mendominasi dirinya di hari yang istimewa ini. Ia menjelaskan bahwa melihat banyak orang merayakan kelulusannya hari ini membuatnya bersyukur bisa menjadi salah satu di antara mereka. Florinesya juga menyebutkan bahwa perjalanannya sampai ke titik ini tidaklah mudah, tetapi ia berterima kasih karena bertemu banyak orang yang mendukungnya di Sastra Inggris. “Lingkungan belajarnya sangat-sangat menyenangkan, orang-orangnya sangat membantu—meskipun banyak jatuh bangunnya,” terangnya.
Mengulas kembali masa-masa kuliahnya, tantangan terbesar Florinesya adalah menghadapi jadwalnya yang amat ketat, terutama menyeimbangkan antara aktivitas akademik dan organisasi. “Aku merasa kadang gak bisa keep up dengan teman-teman yang mungkin progresnya lebih jauh, karena aku banyak fokus sama event-event di luar juga,” jelas Florinesya. Maura juga merasa akademik menjadi kesulitan terbesarnya, “Untuk ngikutin [di kelas], aku juga harus belajar lebih.”
Meskipun begitu, banyak kenangan indah yang mewarnai pengalaman kuliah mereka. Maura menyebut pertemanan sebagai hal yang membuat pengalaman kuliahnya dipenuhi kebahagiaan. “Apalagi di FIB, menurut aku toleransinya sangat besar, terus kita bisa jadi diri kita sendiri tanpa orang lain nge-judge,” ungkap Maura. Di sisi lain, Florinesya menyebutkan English Days, acara Dies Natalis Departemen Bahasa Inggris, sebagai pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam padanya selama masa kuliah. “Karena aku ketua ED [English Days] dan selama itu aku ketemu banyak orang yang sangat membantu,” kenangnya.
Dalam menulis tugas akhir mereka sebagai syarat kelulusan, baik Florinesya maupun Maura termotivasi oleh ketertarikan mereka dalam bidang sastra. Maura menceritakan bahwa skripsinya yang berjudul The Subversive Child and Imaginative Power: Challenging Authority in Salman Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories berangkat dari ketertarikannya terhadap sastra anak. Florinesya juga mengaku menikmati topik skripsinya, Mapping the Crisis of Witnessing: A Dialectic Vicarious Trauma Analysis of the Contradictory Narrative in Colleen Hoover’s Verity. Lebih lanjut, ia mengungkapkan fakta mengejutkan: hanya butuh tiga minggu untuk menyelesaikan skripsinya.
Sekarang, setelah masa perkuliahan resmi berakhir dan mereka bersiap untuk melangkah lebih jauh dalam hidup, Maura dan Florinesya memiliki rencana yang sama untuk masa depan. Keduanya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana. “Aku suka belajar dan aku merasa mumpung semangat belajar masih ada juga, jadi aku pengen langsung S-2,” kata Florinesya. Teruntuk Maura, ia berencana untuk terjun ke dunia kerja terlebih dahulu sembari mencari beasiswa pascasarjana di mancanegara.[
Di mana pun mereka berada, jalan apa pun yang mereka tempuh, kami berharap para alumnus Sastra Inggris dapat berkembang dan sukses dengan cara mereka sendiri. Selamat atas kelulusannya!
Penulis: Gulma Zahra Auradatu



