Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dalam kegiatan rutin “Setu Sinau” atau Sabtu Belajar yang digelar di kawasan pedestrian Jalan Malioboro pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pelestarian budaya Jawa melalui pendekatan edukatif dan interaktif kepada masyarakat luas.
Program “Setu Sinau” merupakan agenda rutin Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang bertujuan mengenalkan kebudayaan Jawa kepada masyarakat. Beragam kegiatan budaya dihadirkan, mulai dari belajar aksara Jawa, menari, menggambar, ngadi busana atau berbusana Jawa, dolanan anak, hingga memainkan gamelan. Kehadiran Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam program ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian budaya dan penguatan literasi lokal di ruang publik.
Pada kesempatan tersebut, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa mengisi sesi “Sinau Aksara Jawa”. Sekitar 15 peserta mengikuti kegiatan ini setelah mendaftar melalui tautan yang telah dibagikan sebelumnya. Tidak hanya itu, beberapa pengunjung Malioboro juga tampak antusias bergabung secara langsung karena tertarik mempelajari cara menulis aksara Jawa.
Kegiatan diawali dengan pengenalan aksara Jawa mulai dari ꦲ hingga ꦜ, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan sandhangan sebagai penanda bunyi, seperti ꦶ untuk bunyi “i”, ꦸ untuk bunyi “u”, ꦺ untuk bunyi “e”, dan ꦺꦴ untuk bunyi “o”. Karena bersifat pengenalan dasar, materi mengenai pasangan aksara belum disampaikan dalam sesi kali ini.
Suasana Sinau Aksara berlangsung regeng lan gayeng. Para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak bermain sambil belajar melalui permainan kartu aksara. Instruktur membacakan kata tertentu, kemudian peserta diminta menyusun kartu aksara sesuai kata yang disebutkan. Selain itu, peserta juga berlatih menulis langsung kata maupun kalimat sederhana menggunakan aksara Jawa. Metode interaktif ini membuat peserta lebih mudah memahami materi sekaligus menikmati proses belajar budaya Jawa secara menyenangkan.
Salah satu peserta, Ibu Sahnaz yang hadir bersama putra-putranya, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi alternatif positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman “bermain sambil belajar” budaya Jawa secara langsung. Sementara itu, Ibu Lestari yang datang dari Muntilan mengaku tertarik mempelajari metode pengajaran aksara Jawa untuk anak-anak pemula. Ia merasa metode kartu aksara yang digunakan sangat efektif dan menyenangkan. Tidak sedikit pula peserta yang berasal dari luar Jawa mengaku mendapatkan pengalaman baru yang menarik karena dapat mencoba menulis aksara Jawa secara langsung.
Kegiatan ditutup dengan pembagian buku dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta serta souvenir dari Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM kepada seluruh peserta. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pendidikan budaya yang inklusif dan menyenangkan, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya di ruang publik Kota Yogyakarta.
Melalui kegiatan seperti Setu Sinau, budaya Jawa tidak hanya dikenalkan sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.
Salam Literasi, Salam Aksara.
Tim Aksara
Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM
(Arsanti, Zakaria, Ghibran, Dian, Bayu, Maysa)
Editor : Humas FIB UGM, Alma Syahwalani

