• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
  • SDGs 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
Arsip:

SDGs 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

Mahasiswa Antropologi Raih Medali Emas di National Excellence Competition

Rilis Berita Rabu, 20 Mei 2026

Kabar gembira datang dari tiga mahasiswa Sarjana Antropologi Budaya, FIB, UGM yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang National Excellence Competition (NEC) 2026 tingkat nasional. NEC diselenggarakan oleh Eduhub Incubator bekerja sama dengan Universitas Mataram. Kompetisi tersebut berlangsung pada 9–10 Mei 2026 di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tim tersebut terdiri atas Dinaesy Fadillah Hidayat, Aly Aydeed dan Nadila Aryani Az-Zalfa berhasil meraih Medali Emas pada cabang Essay Bidang Riset Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah bimbingan Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.

Kompetisi ini mengangkat tema “Integrasi Pemikiran Kritis, Inovasi Sosial, dan Kapabilitas Entrepreneurial Berkelanjutan dalam Kerangka Pembangunan Inklusif dan Pencapaian SDGs di Indonesia.” Dalam karya tulisnya, tim mengangkat persoalan pengelolaan event dan limbah sampah pariwisata di Yogyakarta yang dinilai masih menjadi tantangan dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Sebagai solusi, tim menawarkan inovasi berupa lembaga pengelolaan event panggung berbasis ekonomi sirkular. Gagasan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan acara dengan sistem pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah, sehingga mampu menciptakan ekosistem event yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung sektor ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tetap kritis terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat dan menghadirkan gagasan inovatif serta dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan sosial melalui riset dan karya ilmiah yang berdampak bagi masyarakat.

Penulis: Dewi W – disadur dari laporan Dinaesy Fadillah Hidayat 

Foto: Dinaesy Fadillah Hidayat dkk

Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Lapangan’ – sebagai Refleksi atas ‘Masa Depan Kita Bersama’ dan perkembangan dalam rangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Rilis Berita Selasa, 19 Mei 2026

Selama bulan Februari hingga April 2026, 15 mahasiswa Antropologi (sarjana dan pascasarjana) Antropologi,FIB, UGM mengikuti kelas “Framing Sustainable Tourism on the Ground” yang dirancang dan diampu oleh dosen tamu, Profesor Dr. Sabine Troeger dari Universitas Bonn, Jerman. Dalam kelas ini dibahas mengenai sustainable atau keberlanjutan dalam pariwisata.

Kata kunci ‘Keberlanjutan’ dan ‘Pariwisata’ menghubungkan perspektif kelas berkaitan dengan: (a) kerangka normatif tantangan pembangunan dalam hal ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’ sebagaimana didefinisikan oleh UNWTO dan UNEP, Laporan Brundtland ‘Masa Depan Kita Bersama’ (1987) yang direplikasi dalam struktur tripartitnya pada tahun 2015 oleh SDGs melalui 17 tujuannya, serta (b) dimensi pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional Indonesia. Laporan ‘Our Common Future’ merupakan salah satu landasan politik terpenting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs). Laporan ini menetapkan gagasan dasar perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial, yang diintegrasikan dan saling terkait, sementara SDGs mengimplementasikan filosofi, terminologi, dan argumen moral tersebut dalam kerangka aksi global yang konkret, terukur, dan disepakati secara politik. 

Kelas tentang pariwisata, dengan fokus khusus pada berbagai aktor dan pilihan agen mereka serta kekuatan struktural yang mengikutinya, bertujuan untuk menghubungkan bidang pariwisata yang sangat sensitif dan rentan—sebagaimana didefinisikan oleh berbagai kelompok kepentingan dan kekuasaan—dengan kerangka kerja menyeluruh yang ditekankan dalam proses globalisasi saat ini.

Urutan kelas dibagi menjadi dua tahap sebagai pengenalan:

Pertama: sesi pengenalan awal yang mengikuti pemahaman awal tentang kerangka akademis teori-filosofis yang menghubungkan kata kunci ‘pariwisata’ dengan ‘keberlanjutan’, presentasi mahasiswa atas artikel-artikel terpilih, antara lain tentang ‘Dinamika kelas dalam perubahan agraria di pedesaan Jawa’ (Habibi, 2024) atau Pengembangan Pariwisata (Isnandar dkk., 2025), dan kedua, pelatihan praktis mengenai Metodologi PRA dan Filsafat PRA (Chambers, 1994).

Kedua: Fase ‘penilaian dan evaluasi data partisipatif’, yang berlokasi di desa Watu Kodok/Kelor Kidul/Kelor Lor di Kabupaten Gunungkidul, sebuah gabungan dusun yang telah berubah menjadi resor pantai.

Pembangunan masyarakat di Indonesia saat ini menuntut perubahan radikal, meskipun berbeda dari yang dihasilkan oleh modernisasi pertanian – berupa diversifikasi mata pencaharian, peningkatan kerja sama, dan partisipasi masyarakat di wilayah yang kini ditandai oleh istilah-istilah globalisasi. Perspektif deskriptif-analitis berfokus pada pendekatan terhadap titik transformasi dan membuka ruang untuk memahami perubahan sebagai hasil dari proses yang tidak disengaja atau disengaja. Penilaian Pedesaan Partisipatif (PRA), sebuah metodologi yang mendorong mahasiswa peneliti melampaui pengamatan pasif dan mengharuskan mereka bekerja sebagai peneliti aktif bersama masyarakat. Dengan berinteraksi langsung dengan petani, pengusaha lokal, dan pemimpin masyarakat, kelas ini menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan tantangan praktis pariwisata berbasis masyarakat (CBT). Filosofi ‘Metodologi Partisipatif’ menyatakan bahwa peserta di lapangan adalah ‘aktor’ yang mendefinisikan dan merefleksikan keprihatinan mereka sendiri – keprihatinan mata pencaharian dalam berbagai bentuk – merefleksikan diri mereka sendiri, dan menceritakan ‘kisah mereka sendiri’, terutama di masa perubahan sosial dan kebutuhan dalam konteks yang lebih luas. Sorotan kelas ini adalah menemukan dan merefleksikan proses dan hasil perubahan sosial saat ini di bidang ‘pariwisata’.

Screenshot

Watu Kodok dan dusun-dusun tetangganya, yang secara berurutan disatukan di bawah nama ‘Watu Kodok’—lokasi penelitian lapangan kelas ini—dikenal luas karena pasir putih dan tebing kapurnya. Namun, di balik citra populernya sebagai destinasi liburan, lanskap sosial yang kompleks terungkap dan menanti untuk dijelajahi. Penelitian lapangan kelas ini dirancang untuk menganalisis bagaimana ‘keberlanjutan’, yang mencerminkan perbedaan perspektif yang disebutkan di atas, ditafsirkan dan dipraktikkan oleh penduduk yang tinggal di lingkungan Watu Kodok.

Perbedaan perspektif yang ditargetkan mengenai ‘keberlanjutan’ yang berkaitan dengan pariwisata ini direalisasikan melalui fokus selektif pada empat kelompok sasaran: a) para pelaku yang menjalankan pekerjaan turun-temurun, seperti petani dan pemilik usaha kecil; b) pelaku di bidang tradisi budaya seperti pemain gamelan

dan seniman batik; c) pelaku dalam kegiatan yang secara eksplisit berorientasi pada pariwisata seperti pengusaha homestay, serta pelaku di bidang pengelolaan sampah; d) pelaku di bidang pariwisata eksplisit seperti manajer Jiwa Laut Eco Resort, Bu Ira dan karyawannya, pelaku bisnis penyewaan tenda dan ‘glamping’, serta ‘Mas Heri’, inisiator dan pelaku ‘Fun Games’ bagi wisatawan di lokasi pantai.

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap strategis, dimulai pada 2 April dengan fokus pada pemetaan sosial dan konteks historis. Hari dimulai dengan diskusi PRA pertama bersama warga lanjut usia dan pemangku kepentingan lokal untuk membahas harapan, aspirasi, serta tekanan yang ditimbulkan oleh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dan investor. Pada sore hari, mahasiswa berinteraksi dengan petani untuk membahas kebutuhan pertanian dasar, termasuk akses terhadap pupuk dan benih, sambil menganalisis bagaimana pariwisata mengganggu mata pencaharian mereka, misalnya terkait beban limbah dan bayangan yang ditimbulkan oleh bangunan vila baru yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Setelah menyelidiki secara partisipatif persepsi dan kekhawatiran petani terkait pariwisata, mahasiswa bertemu dengan pemilik ‘Warung’ dan mendiskusikan kekhawatiran bisnis mereka terkait wisatawan serta harapan untuk masa depan. Hal ini dilanjutkan dengan perjalanan Transect untuk membangun pemahaman visual awal tentang evolusi fisik dan sosial wilayah tersebut bersama mahasiswa. Hari itu ditutup dengan pertunjukan Gamelan, yang berfungsi sebagai studi kasus bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi bagaimana budaya lokal secara strategis mempertahankan vitalitas dan relevansinya di tengah perkembangan modern.

Pada 8 April, hari kedua kerja lapangan, fokus beralih ke usaha lokal dan ekologi, saat mahasiswa bertemu dengan seniman Batik, pemilik homestay, dan kelompok pengelolaan limbah. Sesi-sesi ini dirancang untuk mengevaluasi pengakuan seni tradisional oleh wisatawan, menilai peluang pasar dan keadilan bisnis, serta menentukan bagaimana pengunjung dilibatkan dalam ‘masalah sampah’ dan pelestarian lanskap ekologi. Hari itu diakhiri dengan sesi ‘Fun Games’, yang menyediakan platform untuk mendiskusikan harapan masa depan bagi usaha lokal. Fase terakhir pada 20 April didedikasikan untuk ‘transparansi’ yang diwujudkan melalui Umpan Balik Penelitian, di mana mahasiswa mempresentasikan temuan mereka kepada masyarakat untuk pengakuan, koreksi, dan komentar. Proses “belajar dua arah” ini memastikan penelitian benar-benar mencerminkan realitas warga.

Para mahasiswa, yang berperan sebagai ‘mitra penelitian’, mengapresiasi kegiatan ini dan menemukan bahwa pengalaman lapangan menantang prasangka akademis mereka. Siraj mencatat bahwa kerja lapangan mengungkapkan isu-isu pariwisata jauh lebih “kompleks dan gila” daripada yang disarankan buku teks, sementara Hizkia menghargai kesempatan untuk meresapi wawasan lapangan sambil merefleksikan teori. Rifqy merasa kerja PRA praktis memberikan visi yang jelas tentang bagaimana pariwisata berkelanjutan seharusnya berfungsi, dan Fina mengamati bahwa pengalaman intensif ini “entah bagaimana menghubungkan setiap dari kita.” Bagi yang lain seperti Tiara dan Biel, kursus ini digambarkan sebagai salah satu keputusan paling membuka wawasan dan bermakna dalam perjalanan akademik mereka.

Kembali ke interpolasi yang awalnya ditekankan antara perspektif ‘keberlanjutan’ dan ‘pariwisata’, data mahasiswa dalam pelatihan pertama penilaian partisipatif ini menyoroti beberapa hasil, yang dibahas secara mendalam dalam sesi umpan balik akhir bersama peserta penelitian. Mengacu pada indikator yang disebutkan sebelumnya yang mendefinisikan ‘Keberlanjutan’ terkait pengembangan pariwisata, yaitu ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’, perwakilan dari kelompok sasaran penelitian tersebut menyoroti perkembangan seperti a) dampak pariwisata dalam hal jumlah limbah yang mengancam lingkungan; b) pengungsian penduduk yang dipicu pariwisata dan penebangan pohon di kawasan pantai; selain itu, mereka menyoroti kurangnya keterlibatan komunitas lokal sebagai mitra manusia yang sejajar dan setara, serta c) biaya konservasi akibat perluasan dampak pariwisata sepenuhnya dibebankan pada komunitas lokal, yang mengabaikan prinsip ‘pencemar membayar’.

Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), studi ini membahas SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menganalisis bagaimana pendekatan Pariwisata Berbasis Masyarakat melindungi pemilik usaha kecil dan pengusaha warung dari dominasi investor eksternal besar. Aktivitas di lapangan mencerminkan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dengan menekankan perlindungan warisan budaya lokal, seperti Gamelan dan Batik, sebagai landasan identitas komunitas. Selain itu, fokus pada ‘masalah sampah’ dan langkah-langkah pelestarian lanskap Karst mencerminkan SDG 12

(Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Terakhir, kolaborasi antara akademisi internasional, mahasiswa UGM, dan aktor lokal seperti tim Jiwa Laut menunjukkan penerapan praktis dari SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Pada akhirnya, penelitian lapangan di Watu Kodok menunjukkan bahwa agar pariwisata benar-benar berkelanjutan, pariwisata harus dibangun berdasarkan suara, kebutuhan, dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.

Bagaimanapun juga, masyarakat sedang menghadapi dorongan yang tidak dapat diubah menuju ‘transformasi’, yang memerlukan inisiatif penyelidikan dan penelitian lebih lanjut yang hanya dapat disinggung, namun tidak dibahas secara mendalam, oleh pelatihan utama dalam orientasi teori dan metodologi akademis di kelas UGM. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, diskusi dengan para peserta di Watu Kodok menunjukkan bahwa pariwisata, secara keseluruhan, melibatkan ‘transformasi’ mata pencaharian serta nilai-nilai dan interpretasi yang terkait. Kehidupan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, dan masyarakat sedang dan akan terus berada dalam proses redefinisi.

 

References:

Brundtland, G.H. (1987) Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future. UN General Assembly Document A/42/427

Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Challenges, potentials and paradigm. World Development, 22(10), 1437–1454. https://doi.org/10.1016/0305-750x(94)90030-2

Isnandar et al. (2025): Sustainable Tourism Development Based on Local Wisdom in Sutojayan Village, Malang Regency: A Participatory Approach in Masterplan Planning.

Muchtar Habibi (2024): Masters of the countryside and their enemies: Class dynamics of agrarian changes in rural Java.

 

Penulis: Cynthia Christyananta & Prof. Dr. Sabine Troeger

Foto: Cynthia Christyananta

Dari Lalapan ke Seblak: Membedah Transformasi Konsumsi di Masyarakat Sunda

Rilis Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta, 2 April 2026 – Mahasiswa Program Studi Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) jenjang S2 berkesempatan mendalami realitas budaya pangan melalui kuliah tamu pada mata kuliah Gaya Hidup. Kuliah ini menghadirkan Dr. Erna Herawati dari Departemen Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai narasumber utama. Mengusung tajuk “Dari Lalapan ke Seblak: Transformasi Pola Konsumsi Pangan dan Tantangan Gaya Hidup Sehat dalam Masyarakat Sunda Kontemporer”, diskusi ini membedah bagaimana pilihan makanan merupakan hasil interaksi kompleks faktor sosial dan budaya. Dr. Erna memaparkan adanya transformasi signifikan dari sistem pangan berbasis lokal menuju sistem yang terindustrialisasi. Secara tradisional, masyarakat Sunda memiliki gaya hidup yang selaras dengan lingkungan, di mana lalapan dan oncom menjadi inti diet harian. Lalapan, yang terdiri dari sayuran segar minim proses, merupakan representasi pengetahuan lokal yang mendekati whole food diet.

Lebih jauh, praktik “nyangu” atau membawa bekal dari rumah mencerminkan nilai kemandirian, kesederhanaan, dan keteraturan. Dalam konteks ini, dapur menjadi ruang sosial tempat transmisi pengetahuan antargenerasi terjadi, termasuk edukasi mengenai gaya hidup sehat.

Namun, realitas kontemporer menunjukkan pergeseran tajam menuju makanan populer seperti seblak dan surabi modern. Seblak, yang kini menjadi tren, dikategorikan sebagai makanan energy-dense namun low nutrient karena tinggi karbohidrat (aci) dan sodium dari bumbu instan. Dr. Erna menyoroti bahwa popularitas seblak merupakan bentuk komodifikasi pangan, di mana kebutuhan dasar berubah menjadi identitas gaya hidup yang didorong oleh logika pasar dan budaya populer. Hal serupa terjadi pada Surabi. Dahulu, surabi berfungsi sebagai menu sarapan fungsional yang mengenyangkan dengan topping gurih berbasis lokal seperti oncom. Kini, surabi bertransformasi menjadi jajanan rekreatif dengan topping manis yang dipengaruhi selera global seperti matcha dan oreo, demi memenuhi estetika konsumsi di media sosial.

Fenomena ini selaras dengan tantangan SDG no. 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Dr. Erna menekankan adanya transisi nutrisi yang meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi akibat meningkatnya konsumsi gula, garam, dan lemak. Muncul pula kondisi “Gastro-Anomie”, di mana masyarakat mengalami kebingungan di tengah banjirnya pilihan makanan; mereka mengetahui mana yang sehat secara medis, namun praktek kesehariannya justru bertolak belakang karena tekanan norma sosial dan aksesibilitas ekonomi. Selain itu, ketergantungan pada makanan instan berbasis industri menantang SDG no. 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Padahal, praktik lokal seperti pengolahan oncom telah lama menerapkan prinsip zero waste melalui pemanfaatan bahan sisa sebagai sumber protein.

Melalui kacamata teori Habitus dari Pierre Bourdieu, kuliah ini memberikan insight bahwa selera makan dibentuk secara sosial dan sering kali menjadi penanda identitas kelas. Dr. Erna mengajak mahasiswa sebagai agen perubahan untuk melihat tantangan kesehatan secara sistemik. Promosi gaya hidup sehat tidak cukup hanya dengan edukasi medis konvensional, tetapi harus menggunakan pendekatan budaya yang inovatif dan kontekstual agar lebih inklusif dan dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

[Antropologi Budaya, Zayyan Faadia Ayutty]

Fakultas Ilmu Budaya UGM Perkuat Program Pengendalian Pencemaran Air melalui Pengelolaan Limbah Terintegrasi

FIBHEADLINERilis Berita Rabu, 11 Februari 2026

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui berbagai program pengendalian pencemaran air di kawasan kampus. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan sistem pengelolaan air limbah yang terintegrasi melalui Sewage Treatment Plant (STP) untuk memastikan limbah domestik yang dihasilkan dari aktivitas kampus diolah secara aman sebelum dilepaskan ke lingkungan.

Sebagai institusi pendidikan yang memiliki berbagai aktivitas akademik dan pelayanan setiap hari, FIB UGM menghasilkan air limbah domestik yang berasal dari toilet, wastafel, area pencucian, serta kegiatan operasional kantin. Untuk mencegah pencemaran lingkungan dan menjaga kualitas air di sekitar kampus, seluruh limbah tersebut dikelola melalui sistem pengolahan yang memenuhi prinsip perlindungan lingkungan.

Sewage Treatment Plant (STP) merupakan instalasi pengolahan air limbah yang dirancang untuk mengolah air limbah domestik agar aman dibuang ke lingkungan. Sistem ini menjadi bagian penting dari upaya FIB UGM dalam mendukung kampus yang sehat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Proses pengolahan pada STP dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah penyaringan fisik, yaitu proses pemisahan sampah dan partikel padat dari air limbah. Tahap kedua adalah penguraian biologis, di mana mikroorganisme atau bakteri menguraikan kandungan bahan organik yang terdapat dalam limbah sehingga kualitas air menjadi lebih baik. Selanjutnya, pada tahap ketiga dilakukan sterilisasi kimiawi untuk mengurangi mikroorganisme berbahaya dan memastikan air hasil pengolahan memenuhi standar sebelum dialirkan ke lingkungan.

Penerapan STP di lingkungan FIB UGM menjadi langkah strategis dalam mengurangi potensi pencemaran air sekaligus menjaga kesehatan lingkungan kampus. Sistem ini mengolah berbagai sumber limbah domestik, termasuk limbah yang berasal dari kantin, toilet, wastafel, dan area pencucian yang tersebar di lingkungan fakultas.

Untuk memastikan sistem pengolahan berjalan dengan baik, FIB UGM secara rutin melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap operasional STP. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk memastikan proses pengolahan berlangsung optimal, menjaga kualitas air hasil olahan, serta mengidentifikasi potensi perbaikan yang diperlukan dalam pengelolaan limbah.

Selain pengelolaan melalui STP, FIB UGM juga terus mendorong kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan melalui penggunaan air secara bijak dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Edukasi mengenai perilaku ramah lingkungan menjadi bagian dari upaya menciptakan budaya kampus yang peduli terhadap keberlanjutan sumber daya alam.

Program pengendalian pencemaran air yang diterapkan di FIB UGM sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Shela Azzahra, Mahasiswi Sastra Inggris FIB UGM, Hadirkan Hijab Vibran Lewat Brand LaSheild

Rilis Berita Senin, 26 Januari 2026

Yogyakata, 26 Januari 2025 – Shela Azzahra, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023, membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada tidak hanya tumbuh di ruang kelas saja, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi inovasi wirausaha. Melalui brand hijab bernama laSheild, Shela menghadirkan alternatif hijab lokal dengan karakter warna-warna bold dan vibrant yang berani tampil berbeda di pasar hijab Indonesia.

Ketertarikan Shela membangun bisnis hijab berawal dari kebutuhan personal sekaligus kegelisahannya sebagai individu kreatif yang menyukai eksplorasi fashion. Ia kerap kesulitan menemukan hijab dengan warna-warna cerah di pasar lokal, yang umumnya didominasi warna aman dan earth tone. Untuk mendapatkan tampilan yang diinginkan, Shela sebelumnya harus membeli produk luar negeri dengan harga tinggi karena ongkos kirim dan pajak bea masuk. Dari pengalaman tersebut, muncul ide untuk menciptakan produk hijab lokal yang reasonable price, berkualitas, dan mudah dijangkau.

“Kenapa nggak bikin sendiri aja?” pikiran Shela ini menjadi titik awal lahirnya laSheild yang kini mengusung tagline “Vibrant hues. Born in colors.” Brand ini hadir untuk mengisi celah pasar hijab lokal sekaligus mengajak para hijabi untuk lebih playful dan berani mengekspresikan diri melalui warna. Meski sempat ragu dan hanya memproduksi stok terbatas, respons pasar justru melampaui ekspektasi. Tingginya permintaan menunjukkan bahwa hijabi Indonesia memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan identitas dan kepribadian mereka lewat pilihan warna. Antusiasme tersebut bahkan membuka peluang  ke pasar internasional, sehingga laSheild kini mulai mempertimbangkan pengiriman ke luar negeri.

Di balik pencapaiannya, Shela menghadapi tantangan besar sebagai mahasiswa aktif sekaligus solopreneur. “Tantangan utamanya adalah peran ganda sebagai mahasiswa aktif dan solopreneur. Dari awal merintis, aku mengerjakan semuanya sendirian tanpa tim. Karena prioritasku tetap kuliah, laSheild tidak bisa aktif setiap hari. Tantangannya adalah mencoba untuk tidak “burnout” dan menerima bahwa bisnis ini berjalan beriringan dengan ritme kuliahku, bukan saling balapan. Kadang rasanya 24 jam itu kurang, terutama saat masa ujian dan juga saat peak season penjualan. Jadi aku menghindari berjualan di masa-masa ujian.”

Dalam mengelola waktu, Shela mengedepankan prinsip “no pressure”. Ia tidak menetapkan target penjualan yang membebani, melainkan menyesuaikan ritme bisnis dengan kesibukan kuliah. Dukungan dari lingkungan sekitar, khususnya teman-teman yang membantu promosi dan pembuatan konten, turut menjadi faktor penting dalam keberlanjutan laSheild.

Kisah Shela sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan keterampilan kreatif dan kewirausahaan mahasiswa, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong wirausaha muda dan ekonomi kreatif, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan produk lokal yang berkelanjutan dan terjangkau.

Menutup perjalanannya, Shela membagikan pesan singkat bagi mahasiswa FIB yang ingin memulai bisnis. “Just try. Don’t be afraid to be different. Jangan takut memulai sesuatu yang kelihatannya niche. Mulai dari kecil, tapi bermimpi besar,” ujarnya. Kisah laSheild menjadi bukti bahwa kreativitas, keberanian, dan konsistensi dapat membuka jalan bagi mahasiswa untuk berkarya sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

123…23

Rilis Berita

  • Awali Hari dengan Energi Positif, Sibuya Bantu Mahasiswa Tetap Fokus dan Berenergi
  • AI, Geopolitik, hingga Sastra Feminis Warnai Seminar Proposal Mahasiswa Sastra Arab UGM
  • Belajar Ikonografi Buddha Melalui Kunjungan Lapangan di Candi Plaosan
  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Terpilih Mengikuti Ferris University Exchange Program di Jepang
  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara 2 Lomba Shodou dalam Ajang Isshoni Tanomimashou Universitas Brawijaya

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju