Departemen Sejarah UGM menggelar seminar kebudayaan bertajuk ‘Reclaiming Narratives of Colonial Objects: Recovering Histories and Dismantling Colonial Knowledge’ di Auditorium Soegondo pada hari Kamis, 9 Juli 2026.
Seminar ini menghadirkan akademisi dari Lombok hingga Amsterdam untuk mengupas sejarah kelam Perang Lombok 1894, di mana terjadi kekerasan dan penjarahan massal benda budaya milik Kerajaan Mataram. Diskusi antar narasumber berjalan hangat karena menghadirkan kedua belah pihak, baik dari tempat yang terjajah maupun yang menjajah.
“Don’t diversify, decolonise” adalah slogan utama yang ditampilkan pada acara ini. Slogan tersebut menegaskan bahwa upaya pengembalian sejarah bukan sekadar menambah keberagaman koleksi semata, melainkan sebuah perubahan pola pikir dari narasi yang awalnya bersumber dari sudut pandang penjajah menjadi penjelasan sejarah milik masyarakat sendiri selaku pihak yang dijajah.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Universitas Amsterdam, Weltmuseum, Kementerian Kebudayaan, dan NWO yang telah mendukung acara ini sehingga bisa berjalan dengan lancar,” kutip salah satu mahasiswa sejarah yang mengikuti acara tersebut.
Seminar yang terbuka untuk umum ini, banyak dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa UGM dan non-UGM, serta para pemangku kebijakan. Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan bahwa forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik biasa, melainkan langkah nyata dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDGs poin 4 mengenai Pendidikan Berkualitas melalui rekonstruksi kurikulum sejarah yang lebih kritis. Selain itu, kegiatan ini juga selaras dengan SDGs poin 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui upaya rekonsiliasi serta penegakan keadilan sejarah atas benda-benda warisan budaya.
Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman


