Yogyakarta, 10 September 2026 — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) terus memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui pencatatan volume limbah secara daring. Pencatatan ini dilakukan melalui aplikasi terintergrasi dengan Sistem Universitas, yaitu Sistem Informasi Pengelolaan Sampah berbasis Internet of Things (SIPS-IoT) yang dapat diakses melalui https://staging-apps.ugm.ac.id/sips-iot/.
Penerapan pencatatan secara online menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efektivitas pemantauan, ketertiban administrasi, dan ketersediaan data pengelolaan limbah di lingkungan fakultas. Data yang tercatat diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengevaluasi volume sampah, mengidentifikasi jenis limbah, serta merumuskan langkah pengurangan dan pengelolaan limbah secara lebih terukur.
Pengelolaan limbah di FIB UGM mencakup pemantauan sampah organik, anorganik, residu, serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan karakteristik dan ketentuan pengelolaannya. Melalui pencatatan yang terstruktur, fakultas berupaya mendorong pengelolaan limbah yang lebih tertib, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Berdasarkan data pada dashboard SIPS-IoT yang ditampilkan, volume sampah masuk tercatat sebesar 10.202,90 kg, sedangkan volume sampah keluar mencapai 10.262,10 kg.
Data tersebut menunjukkan bahwa volume sampah keluar lebih besar 59,20 kg dibandingkan volume sampah masuk. Selisih ini perlu menjadi perhatian dalam proses pemantauan dan rekonsiliasi data agar pencatatan volume limbah dapat menggambarkan kondisi pengelolaan sampah secara akurat.
Rincian volume berdasarkan kategori pada dashboard adalah sebagai berikut:
| Kategori sampah | Sampah masuk (kg) | Sampah keluar (kg) |
| Sapuan | 3.054,50 | 3.148,50 |
| Anorganik | 2.261,00 | 2.136,00 |
| Residu | 4.633,00 | 4.850,90 |
| Sisa makanan | 254,40 | 126,70 |
| Total | 10.202,90 | 10.262,10 |
Berdasarkan rincian tersebut, residu merupakan kategori dengan volume terbesar, yaitu 4.633,00 kg pada sampah masuk dan 4.850,90 kg pada sampah keluar. Volume residu keluar meningkat sebesar 217,90 kg dibandingkan volume masuk. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya mengurangi sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali melalui pemilahan sejak dari sumbernya.
Sementara itu, volume sampah anorganik keluar tercatat sebesar 2.136,00 kg, lebih rendah 125,00 kg dibandingkan volume masuk. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui pola penyaluran, pemanfaatan kembali, atau pengelolaan sampah anorganik. Adapun volume sisa makanan keluar sebesar 126,70 kg, lebih rendah 127,70 kg dibandingkan volume masuk. Data tersebut dapat menjadi salah satu dasar evaluasi pengurangan sampah makanan dan pengembangan pengolahan sampah organik.
Kategori sapuan menunjukkan volume keluar sebesar 3.148,50 kg, lebih tinggi 94,00 kg dibandingkan volume masuk. Perbedaan pada setiap kategori perlu dianalisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan periode pencatatan, proses pengumpulan, pemindahan, serta mekanisme penimbangan sampah.
Perlu diperhatikan bahwa data pada grafik yang tersedia menampilkan kategori sapuan, anorganik, residu, dan sisa makanan. Volume limbah B3 belum terlihat sebagai kategori tersendiri pada grafik tersebut sehingga perlu dipantau melalui pencatatan khusus sesuai dengan karakteristik dan prosedur pengelolaan limbah B3.
Pencatatan volume limbah secara daring merupakan bagian dari upaya FIB UGM untuk mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis data. Informasi yang terdokumentasi secara sistematis dapat membantu fakultas mengevaluasi efektivitas pemilahan sampah, mengidentifikasi kategori yang perlu mendapatkan perhatian lebih, serta meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan limbah.
Ke depan, evaluasi berkala terhadap data sampah masuk dan keluar perlu dilakukan untuk memastikan konsistensi pencatatan, menelusuri selisih volume, dan mengukur perkembangan upaya pengurangan sampah. Langkah ini juga dapat diperkuat melalui edukasi kepada dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta pengelola kantin dan seluruh pengguna fasilitas kampus agar semakin membiasakan pemilahan sampah dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.
Upaya ini sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengurangan timbulan sampah dan peningkatan praktik pengelolaan limbah, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui dukungan terhadap praktik kampus yang lebih ramah lingkungan.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

