Program Studi Magister Arkeologi Angkatan 2025 berkolaborasi dengan Yayasan Quwwatul Islam Yogyakarta, Kerukunan Bubuhan Banjar Yogyakarta, Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan Yogyakarta, Asosiasi Mahasiswa Kalimantan Selatan Universitas Gadjah Mada, dan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan menggelar pameran bertajuk Tulak Madam: Kisah Diaspora Banjar di Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung mulai Selasa hingga Sabtu, 2 sampai 6 Mei 2026 ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Kuratorial Museum. Berbeda dengan pameran dari angkatan-angkatan sebelumnya yang digelar di museum, pameran kali ini digelar di Masjid Quwwatul Islam Yogyakarta, yang tidak hanya merupakan tempat untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga merupakan pusat kegiatan bagi komunitas diaspora Banjar di Yogyakarta.
Kurator pameran, Rafi Saputra Karninto dan Hasna Alvia, mengangkat tema diaspora Banjar di Yogyakarta, karena selama ini, komunitas tersebut hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya di Yogyakarta, tetapi belum banyak yang mengetahui identitas kebudayaan mereka, serta kisah kedatangan mereka di Yogyakarta. Pameran terbagi menjadi dua subtema, yaitu “dari Jawa ke Banjar” yang membahas kedekatan budaya Jawa dan Banjar dalam aspek bahasa, adat istiadat, busana, dan kesenian, serta “dari Banjar ke Jogja” yang membahas tiga sebab utama kedatangan orang Banjar ke Yogyakarta, yaitu perjuangan di masa mempertahankan kemerdekaan, perdagangan, dan pendidikan. Perlu diketahui bahwa, komunitas Banjar terawal yang datang ke Yogyakarta merupakan pedagang emas dan intan asal Martapura, Kalimantan Selatan. Komunitas ini juga berperan dalam dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah formal maupun pusat pendidikan keagamaan, yaitu Langgar Kalimantani yang kini menjadi Masjid Quwwatul Islam. Hingga kini, warga keturunan Banjar yang mencari nafkah dari emas dan intan masih eksis di kawasan Ketandan, tetapi mereka tidak lagi berperan sebagai penjual, melainkan pengepul emas. Selain mengangkat kehidupan diaspora Banjar yang telah hidup turun-temurun di Yogyakarta, pameran ini juga menampilkan karya-karya dari mahasiswa dan dosen asal Kalimantan Selatan yang menempuh pendidikan hingga berkiprah sebagai pengajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Pameran Tulak Madam: Kisah Diaspora Banjar di Yogyakarta diharapkan dapat mengenalkan dan mendekatkan konsep museologi secara lebih luas dan terbuka kepada masyarakat umum, tidak terbatas di dalam institusi museum. Selain itu, pameran ini juga diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi dan diskusi antarbudaya, serta melahirkan kolaborasi-kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat yang ada di Yogyakarta.
Penulis : Rafi Saputra Karninto


