Yogyakata, 26 Januari 2025 – Shela Azzahra, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023, membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada tidak hanya tumbuh di ruang kelas saja, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi inovasi wirausaha. Melalui brand hijab bernama laSheild, Shela menghadirkan alternatif hijab lokal dengan karakter warna-warna bold dan vibrant yang berani tampil berbeda di pasar hijab Indonesia.
Ketertarikan Shela membangun bisnis hijab berawal dari kebutuhan personal sekaligus kegelisahannya sebagai individu kreatif yang menyukai eksplorasi fashion. Ia kerap kesulitan menemukan hijab dengan warna-warna cerah di pasar lokal, yang umumnya didominasi warna aman dan earth tone. Untuk mendapatkan tampilan yang diinginkan, Shela sebelumnya harus membeli produk luar negeri dengan harga tinggi karena ongkos kirim dan pajak bea masuk. Dari pengalaman tersebut, muncul ide untuk menciptakan produk hijab lokal yang reasonable price, berkualitas, dan mudah dijangkau.
“Kenapa nggak bikin sendiri aja?” pikiran Shela ini menjadi titik awal lahirnya laSheild yang kini mengusung tagline “Vibrant hues. Born in colors.” Brand ini hadir untuk mengisi celah pasar hijab lokal sekaligus mengajak para hijabi untuk lebih playful dan berani mengekspresikan diri melalui warna. Meski sempat ragu dan hanya memproduksi stok terbatas, respons pasar justru melampaui ekspektasi. Tingginya permintaan menunjukkan bahwa hijabi Indonesia memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan identitas dan kepribadian mereka lewat pilihan warna. Antusiasme tersebut bahkan membuka peluang ke pasar internasional, sehingga laSheild kini mulai mempertimbangkan pengiriman ke luar negeri.
Di balik pencapaiannya, Shela menghadapi tantangan besar sebagai mahasiswa aktif sekaligus solopreneur. “Tantangan utamanya adalah peran ganda sebagai mahasiswa aktif dan solopreneur. Dari awal merintis, aku mengerjakan semuanya sendirian tanpa tim. Karena prioritasku tetap kuliah, laSheild tidak bisa aktif setiap hari. Tantangannya adalah mencoba untuk tidak “burnout” dan menerima bahwa bisnis ini berjalan beriringan dengan ritme kuliahku, bukan saling balapan. Kadang rasanya 24 jam itu kurang, terutama saat masa ujian dan juga saat peak season penjualan. Jadi aku menghindari berjualan di masa-masa ujian.”
Dalam mengelola waktu, Shela mengedepankan prinsip “no pressure”. Ia tidak menetapkan target penjualan yang membebani, melainkan menyesuaikan ritme bisnis dengan kesibukan kuliah. Dukungan dari lingkungan sekitar, khususnya teman-teman yang membantu promosi dan pembuatan konten, turut menjadi faktor penting dalam keberlanjutan laSheild.
Kisah Shela sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan keterampilan kreatif dan kewirausahaan mahasiswa, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong wirausaha muda dan ekonomi kreatif, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan produk lokal yang berkelanjutan dan terjangkau.
Menutup perjalanannya, Shela membagikan pesan singkat bagi mahasiswa FIB yang ingin memulai bisnis. “Just try. Don’t be afraid to be different. Jangan takut memulai sesuatu yang kelihatannya niche. Mulai dari kecil, tapi bermimpi besar,” ujarnya. Kisah laSheild menjadi bukti bahwa kreativitas, keberanian, dan konsistensi dapat membuka jalan bagi mahasiswa untuk berkarya sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]



