Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menyelenggarakan diskusi rutin bertajuk “Geliat Sastra Jawa dalam Media: Cipta, Karya, dan Perubahannya” pada Jumat, 25 September 2026. Pada edisi September ini, diskusi mengangkat tema “Sastra Jawa dalam Siaran Radio” dan dilaksanakan di Ruang 709 FIB UGM pada pukul 13.00–15.00 WIB.
Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menghadirkan Titik Renggani, penyiar senior RRI, pegiat teater, serta pelestari budaya Jawa asal Yogyakarta. Kegiatan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari berbagai angkatan serta mahasiswa exchange.
Dalam pemaparannya, Titik Renggani berbagi pengalaman mengenai keberadaan sastra dalam siaran radio, khususnya di RRI. Ia menjelaskan berbagai aspek yang berkaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seperti radio, geguritan, majalah udara, feautere, dsb., pembacaan atau penyampaian karya sastra melalui siaran, hingga peran voice actor dalam dunia penyiaran. Selain itu, ia juga memaparkan berbagai peluang yang dapat dikembangkan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap dunia radio dan industri kreatif.
Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah informasi mengenai jumlah audiens RRI Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Titik Renggani menunjukkan data melalui aplikasi RRI Digital dan menyampaikan bahwa pada hari pelaksanaan kegiatan, Jumat, 25 September 2026, RRI Yogyakarta tercatat didengarkan oleh sekitar 208 ribu audiens. Menurut data yang ditunjukkannya, jumlah tersebut berada di atas jumlah audiens RRI Jakarta dan RRI Surabaya pada saat itu.
Titik Renggani juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkarya melalui bidang yang mereka tekuni. “Bila saya saja yang merupakan lulusan ekonomi mampu untuk terus berkarya dalam siaran, termasuk terkait dengan bahasa dan sastra Jawa, teman-teman juga harus mampu karena mendalami ilmu tersebut,” tuturnya.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Suasana diskusi berlangsung serius, tetapi tetap santai sehingga mendorong peserta untuk aktif menyampaikan pertanyaan. Pertanyaan yang muncul pun beragam, mulai dari proses penciptaan karya sastra Jawa, dunia penyiaran dan RRI, hingga kiat-kiat menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas.
Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat sastra Jawa tidak hanya sebagai objek kajian akademik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik kreatif yang dapat hadir dalam berbagai media. Pengalaman yang dibagikan Titik Renggani menunjukkan bahwa radio dapat menjadi salah satu ruang bagi sastra Jawa untuk terus digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Melalui diskusi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai keberadaan dan perkembangan sastra Jawa dalam dunia radio dan penyiaran. Bagi mahasiswa, pengalaman yang dibagikan Titik Renggani juga menjadi wawasan mengenai peluang pengembangan bahasa dan sastra Jawa melalui media kreatif. Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ bahasa dan sastra Jawa dapat dilakukan melalui berbagai medium agar tetap hadir dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

