Di tengah riuhnya kehidupan sehari-hari, banyak hal tampak berjalan begitu saja: kemacetan, keramaian pasar, hingga percakapan ringan di ruang digital. Namun, bagi seorang ilmuwan sosial, semua itu bukan sekadar peristiwa biasa. Ia adalah “teks” yang hidup, penuh makna, dan menunggu untuk dibaca lebih dalam.
Dalam sebuah Workshop Penulisan Esai Sosial dan Budaya pada Rabu (8/4/2026) yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A. mengingatkan bahwa kerja ilmuwan sosial sesungguhnya tidak memiliki batas ruang yang pasti. “Laboratorium” mereka adalah kehidupan itu sendiri, yakni ruang yang cair, dinamis, dan sering kali tak terduga.
Menurut Agus, ilmuwan sosial memiliki ruang kerja yang luas dan dinamis, karena objek kajiannya adalah interaksi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. “Segala fenomena sosial, mulai dari kemacetan hingga kebiasaan sehari-hari, dapat menjadi bahan analisis yang mencerminkan struktur sosial dan kebijakan publik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kepekaan atau sensitivitas menjadi kunci utama dalam kerja ilmuwan sosial. Dengan kepekaan tersebut, fenomena yang tampak biasa dapat diolah menjadi analisis yang bermakna dan kritis.
Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti kondisi kritikus sosial di Indonesia yang dinilai menghadapi tekanan dari negara. Agus mengakui bahwa situasi tersebut tidak sepenuhnya cerah, namun juga tidak sepenuhnya suram. Ia menilai bahwa kritik tetap akan hidup selama ada kesadaran sosial di masyarakat.
“Yang penting adalah keberanian untuk mempertanyakan realitas dan tetap berpijak pada hati nurani,” katanya.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa subjektivitas dalam analisis sosial tidak dapat dihindari, namun harus didasarkan pada rasionalitas dan keberpihakan terhadap kelompok rentan. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keadilan sosial di tengah kompleksitas relasi kekuasaan.
Diskusi juga mengangkat fenomena pergeseran bentuk kritik sosial, dari yang semula organik menjadi semakin kompleks akibat intervensi berbagai pihak, termasuk aktor negara. Dalam konteks ini, ilmuwan sosial dituntut lebih cermat dalam membedakan suara masyarakat yang autentik-organik dan yang bersifat manipulatif.
Pada akhirnya, menjadi ilmuwan sosial bukan hanya soal kemampuan menganalisis, tetapi juga soal menjaga integritas. Ketika realitas menjadi semakin kabur, mungkin satu-satunya kompas yang bisa diandalkan adalah hati nurani yang terus mengingatkan bahwa tugas utama ilmu sosial adalah memahami, sekaligus memperjuangkan kemanusiaan.
[Magister Sastra, Khotibul Umam]
