Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada resmi membuka pendaftaran bakal calon dekan pada tanggal 1-14 Juli 2026. Adapun proses penjaringan, penilaian, masa sanggah, hingga ditetapkan dan dilantiknya dekan terpilih akan berlangsung selama bulan Juli hingga September 2026. Selengkapnya terkait linimasa dan persyaratan pendaftaran bakal calon dekan dapat dilihat pada gambar berikut.
Rilis Berita
Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka Call for Papers (CFP) untuk kegiatan Diseminasi Internasional 2026 bertajuk Literature in the Crosscurrents of Globalization. Kegiatan yang akan diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 4 November 2026 ini mengundang akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, guru, dan pemerhati sastra dari dalam maupun luar negeri untuk mendiskusikan berbagai dinamika hubungan antara sastra, budaya, dan masyarakat dalam konteks global kontemporer.
Selain menjadi ruang pertemuan akademik internasional, kegiatan ini juga menawarkan berbagai luaran publikasi, di antaranya penerbitan artikel dalam buku bunga rampai ber-ISBN dan kesempatan bagi artikel terpilih untuk direkomendasikan terbit di Poetika: Jurnal Ilmu Sastra (SINTA 2). Kegiatan ini tidak dipungut biaya pendaftaran (free registration).
Tema Literature in the Crosscurrents of Globalization berangkat dari semakin intensifnya perjumpaan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang di era globalisasi. Perkembangan teknologi digital, mobilitas manusia, dan pertukaran informasi lintas negara telah menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam konteks tersebut, sastra tidak hanya menjadi representasi realitas, tetapi juga ruang tempat identitas, ideologi, tradisi, dan pengalaman manusia dipertemukan, dipertentangkan, serta dinegosiasikan.
Ketua Panitia Diseminasi Internasional, Rini Febriani, menjelaskan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan dan temuan penelitian mengenai berbagai perubahan budaya yang berlangsung di tengah masyarakat global.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan bagaimana sastra merepresentasikan, mengkritisi, dan mentransformasikan perubahan budaya dalam era globalisasi. Kami berharap diseminasi ini dapat memperluas jejaring akademik dan melahirkan kolaborasi penelitian yang produktif,” ujarnya.
Adapun subtema yang ditawarkan dalam CFP ini meliputi Cultural Industry and the Standardization of Literature, Literature as a Site of Power Negotiation, Myth-Making in Popular Literature, Contestation and Demystification of Narratives in Global Space, serta Reconfiguring Localities in Globality. Melalui subtema tersebut, panitia membuka ruang bagi kajian sastra dan fenomena budaya yang relevan dengan perkembangan masyarakat global kontemporer.
Ketua Program Studi Magister Sastra FIB UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menyambut baik penyelenggaraan diseminasi internasional tersebut. Menurutnya, globalisasi tidak hanya mempertemukan berbagai budaya, tetapi juga membentuk politik produksi sastra di tingkat global.
“Tema-tema yang berkembang dalam karya sastra kontemporer tidak hadir secara kebetulan. Di balik kemunculannya, terdapat dinamika dan kuasa global yang turut memengaruhi arah produksi sastra dunia. Isu-isu seperti lingkungan, gender, dan berbagai tema kontemporer lainnya sering kali menjadi bagian dari arus global yang membentuk tren dan orientasi produksi sastra. Karena itu, sastra perlu dibaca tidak hanya sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai bagian dari politik ekonomi dan dinamika budaya global,” ungkapnya.
Pendaftaran dan pengiriman artikel dibuka mulai 29 Juni hingga 4 September 2026. Proses peer review akan dilaksanakan pada 5–26 September 2026, pengumuman penerimaan artikel pada 28 September 2026, revisi artikel pada 5 Oktober 2026, dan pengumpulan bahan presentasi pada 26 Oktober 2026. Forum Diseminasi Internasional akan diselenggarakan pada 4 November 2026.
Peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan mengirimkan artikel ilmiah berbahasa Inggris melalui tautan pendaftaran yang telah disediakan panitia. Artikel yang dikirim harus berupa full paper dengan panjang 5.000–7.000 kata dan akan melalui proses kurasi serta peer review sebelum dipresentasikan dalam forum diseminasi internasional.
Melalui penyelenggaraan Diseminasi Internasional ini, Program Studi Magister Sastra FIB UGM berharap dapat memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional, mendorong kolaborasi lintas institusi, serta menghadirkan ruang dialog yang produktif mengenai perkembangan sastra dan kebudayaan di tengah pusaran globalisasi.
Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran, panduan penulisan, template artikel, dan ketentuan kegiatan dapat diakses melalui tautan berikut:
🔗 Pendaftaran: https://bit.ly/Desiminasi2026UGM
🔗 Informasi Umum: bit.ly/GeneralInfoDissemination2026
📩 Narahubung (WhatsApp):
- Ella: +62 823-2494-4082
- Mita: +62 813-9056-4071
📧 Email: diseminasiugm@gmail.com
Penulis: Rini Febriani Hauri
Yogyakarta, 5 Juni 2026 – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan perkuliahan Bahasa Korea Komprehensif II (Kuliah Korea Bisnis) bersama dosen dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Kim Sueun. Perkuliahan yang berlangsung pada pukul 13.00 – 15.00 WIB di Ruang S204 ini merupakan bagian dari kerja sama akademik antara Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM dengan HUFS.
Selama ini, perkuliahan dilaksanakan secara daring, namun pada bulan Juni 2026 diselenggarakan kelas khusus secara luring dengan menghadirkan Kim Sueun secara langsung ke UGM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Pada pertemuan tersebut, mahasiswa mempresentasikan berbagai gagasan inovasi produk menggunakan bahasa Korea. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan berbahasa Korea yang telah dipelajari dalam konteks bisnis dan komunikasi profesional.
Melalui sesi presentasi ini, mahasiswa tidak hanya menunjukkan kreativitas dalam mempresentasikan ide inovasi produk, tetapi juga melatih kemampuan berbicara di depan umum, berpikir kritis, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Korea.
Kegiatan ini diharapkan dapat melatih kemampuan bahasa Korea mahasiswa sekaligus memperkaya pengalaman belajar internasional melalui kolaborasi berkelanjutan antara Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM dan HUFS.
Penulis: Aura Adiba Wijaya Litianko
Yogyakarta, 21 Mei 2026 – Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dasar-dasar bahasa dan budaya Korea sekaligus memberikan gambaran mengenai Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM kepada para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bahasa Korea.
Kegiatan diawali dengan pengenalan aksara Korea (Hangeul) sebagai fondasi utama dalam mempelajari bahasa Korea. Para siswa diperkenalkan pada bentuk, cara membaca, serta prinsip penyusunan huruf Hangeul secara sederhana sehingga mereka memperoleh pemahaman dasar mengenai sistem penulisan bahasa Korea.
Selanjutnya, peserta diajak mengenal berbagai kosakata dan ungkapan bahasa Korea yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Materi disampaikan secara interaktif sehingga siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang telah mereka peroleh melalui media populer, seperti musik, drama, maupun konten digital Korea.
Untuk menambah antusiasme peserta, tim PKM juga menyelenggarakan kuis mengenai budaya Korea. Melalui kuis tersebut, siswa diajak menguji pengetahuan mereka tentang berbagai aspek budaya Korea yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Setiap jawaban kemudian dibahas bersama sebagai sarana untuk meluruskan pemahaman sekaligus memperkaya wawasan peserta mengenai budaya Korea secara lebih komprehensif.
Selain pengenalan bahasa dan budaya, kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi mengenai tes kemampuan dasar bahasa Korea. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai pentingnya sertifikasi kemampuan bahasa Korea, manfaat mengikuti tes, serta gambaran umum materi yang diujikan sebagai bekal bagi siswa yang ingin mempelajari bahasa dan kebudayaan Korea secara lebih serius di jenjang pendidikan berikutnya.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM berharap dapat meningkatkan minat serta pemahaman siswa terhadap bahasa dan budaya Korea. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM kepada calon mahasiswa potensial, sehingga semakin banyak siswa yang mengenal peluang studi, pengembangan kompetensi, serta prospek karier yang ditawarkan oleh program studi.
Sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan tri dharma, kegiatan PKM ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara universitas dan sekolah serta mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki wawasan lintas budaya dan semangat untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Korea
Penulis: Aura Adiba Wijaya Litianko
Ramayda Akmal Membaca Gagasan Ariel Heryanto, Mengajak Publik Meninjau Ulang Cara Memahami Indonesia
Yogyakarta — Penulis sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Ramayda Akmal, mengajak publik membaca kembali pemikiran Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, dalam diskusi bertajuk “Ramayda Akmal Membaca Ariel Heryanto” yang digelar di Auditorium Soegondo, Lantai 7 FIB UGM, Senin (29/6), pukul 13.00–15.00 WIB.
Acara yang dimoderatori mahasiswa Magister Sastra UGM, Giandra Febrian, menghadirkan Ariel Heryanto sebagai narasumber. Diskusi berfokus pada dua karya Ariel, yakni Huruf demi Huruf dan Nasib Publik dalam Republik, serta mengundang peserta untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya Indonesia melalui pembacaan atas karya-karya tersebut.
Dalam sambutan acara ini, Ketua Program Studi Magister Sastra UGM, Prof. Aprinus Salam, mengenang perjalanan intelektualnya bersama Ariel Heryanto. Ia bahkan memperlihatkan sejumlah foto lama yang merekam kebersamaan mereka sebagai bagian dari nostalgia sekaligus penghormatan terhadap kontribusi Ariel dalam dunia akademik Indonesia.
Mengawali pemaparannya, Ramayda Akmal menyebut Huruf demi Huruf sebagai kumpulan esai yang merangkum berbagai persoalan paling krusial yang dihadapi bangsa Indonesia. Menurutnya, tulisan-tulisan Ariel tidak hanya mengangkat isu-isu penting, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali asumsi yang selama ini dianggap mapan, mulai dari makna pemilu sebagai “pesta demokrasi”, konsep kelas menengah, pembacaan atas perkosaan Mei 1998 sebagai bahasa kekuasaan, hingga relasi antara struktur sosial Indonesia pascakemerdekaan dengan warisan kolonial Hindia Belanda.
Ramayda juga menyoroti bagaimana Ariel Heryanto membangun cara pandang yang tidak selalu bertumpu pada teori-teori Barat. Menurutnya, banyak esai Ariel memperlihatkan upaya memahami masyarakat Asia melalui pengalaman, sejarah, pengetahuan, dan pemikiran yang lahir dari sesama masyarakat Asia atau yang dikenal sebagai south-south knowledge exchange. Dalam pembacaannya, Ariel berupaya melihat budaya Indonesia melalui relasinya dengan masyarakat Asia lainnya.
Selain itu, Ramayda menjelaskan bahwa salah satu kekuatan tulisan Ariel terletak pada kemampuannya membaca hubungan yang semakin kompleks antara budaya populer, kapitalisme, dan kekuasaan. Menurutnya, perkembangan media digital menghadirkan berbagai bentuk produk budaya alternatif yang tampak inklusif, tetapi tetap berada dalam logika kapitalisme.
“Yang membuat tulis Mas Ariel bisa kita baca dan bisa dipertanyakan ulang ketika kita melihat contoh-contohnya semakin kompleks. Tadi alternate literature itu masuk pop culture apa tidak, pembacanya, atau ia alternative product. Tapi sangat difasilitasi oleh media yang sangat kapitalis. Walaupun karakternya sangat variatif-inklusif, setiap orang bisa nulis, bisa baca, tapi kan kalau product kamu harus bayar […] nah itu kan semakin kompleks hubungan antara kapitalisme, budaya pop, penguasa, kekuatan dominan,” ujar Ramayda.
Dalam sesi diskusi, Ramayda juga membagikan kesan pribadinya terhadap esai “Huruf demi Huruf” yang menjadi judul buku tersebut. Baginya, esai itu menjadi salah satu tulisan Ariel yang paling berkesan karena berangkat dari pengalaman masa lalu yang sangat personal, lalu menghubungkannya dengan refleksi mengenai kondisi Indonesia hari ini.
Sementara itu, Ariel Heryanto mengungkapkan pertanyaan yang terus mendorongnya menulis sejak sekitar 1976. Menurutnya, ia selalu terusik oleh kenyataan bahwa ketimpangan sosial dapat berlangsung dalam masyarakat yang tampak relatif stabil, damai, dan seolah berjalan tanpa gejolak besar.
Diskusi semakin hangat ketika peserta menanyakan kemungkinan Indonesia mengalami disintegrasi, merujuk pada judul buku Nasib Publik dalam Republik. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ariel menekankan bahwa kapitalisme merupakan kekuatan terbesar yang membentuk kehidupan bernegara saat ini.
“Menurut saya kekuatan terbesar di dunia saat ini bernama kapitalisme. Bukan radikalisme, bukan separatisme. Ada semua itu, tapi tidak mampu mengungguli kapitalisme. Selama ia (negara) menggunakan kapitalisme, ia akan bertahan. Bukan saja di dalam negeri, tapi juga di luar. Dengan kata lain, nasionalisme adalah produk dan kepentingan kapitalisme. Nasib sebuah nation akan bertahan tergantung pembentukan menggunakan sistem kapitalisme atau tidak,” ujar Ariel.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap masyarakat, baik yang telah maupun belum membaca karya-karya Ariel Heryanto, dapat menjadikan forum tersebut sebagai ruang untuk mengurai sekaligus mengkritisi berbagai persoalan kebangsaan melalui perspektif sastra, budaya, dan ilmu sosial.
Acara ditutup dengan sesi penandatanganan buku oleh Ariel Heryanto. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta tanda tangan, berfoto, dan berdiskusi secara langsung dengan Ariel mengenai gagasan-gagasan yang dipaparkan selama diskusi. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya minat terhadap karya dan pemikiran Ariel Heryanto yang masih relevan dalam membaca berbagai persoalan Indonesia hari ini.
Penulis: Khotibul Umam
