• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Rilis Berita
Arsip:

Rilis Berita

Book Party English Days 2026 Hadirkan Ruang Diskusi Fantasi yang Interaktif

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Book Party, salah satu acara dalam rangkaian English Days 2026, sukses diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2025 di Ruang 521-522 Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Acara ini dirancang untuk memfasilitasi peserta generasi muda dalam ruang diskusi yang interaktif dan edukatif guna meningkatkan minat literasi serta pertukaran gagasan. Kegiatan ini memberi ruang bagi peserta untuk membawa dan membahas buku yang sedang atau telah mereka baca. 

Untuk menyelaraskan dengan visi English Days 2026, Book Party ini mengangkat tema “Re-Enchantment: Reading Yourself Through Fantasy”. Tema tersebut dirancang untuk memantik rasa penasaran peserta sekaligus menjadi wadah bagi mereka untuk merefleksikan imajinasi dan fantasi masing-masing. 

Acara dibuka dengan sesi talk show bersama dua narasumber, yaitu Achmad Munjid, Ph.D. dan Asef Saeful Anwar, S.S., M.A., yang dipandu oleh Gede Nathan Farrel Kusnadi selaku moderator. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi silent reading bersama dan ditutup dengan sesi pembagian kelompok untuk agenda sharing sessions dan games. 

Salah satu peserta acara, Jehian Diego dari Sastra Inggris angkatan 2026, mengaku tertarik menghadiri Book Party karena merasa penasaran dengan topik yang dibahas, khususnya buku fantasi. Para pembicara yang dihadirkan juga menjadi daya tarik tersendiri baginya. 

Menurut Jehian, pengalaman mengikuti Book Party sangat menyenangkan. Ia menilai bahwa acara ini dikemas secara menarik dan interaktif. “Kita tidak hanya duduk untuk membaca, tetapi juga berinteraksi dengan peserta lain dan pembicara,” ujarnya. Ia menyebut sesi talkshow sebagai bagian yang paling informatif, sedangkan sesi games menjadi bagian yang paling seru karena banyak hal tak terduga terjadi sehingga menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. 

Jehian juga merasa memperoleh banyak wawasan baru dari acara ini. Baginya, sesi talkshow terasa seperti tambahan kelas bersama Pak Munjid dan Mas Asef. Dari sesi tersebut, ia menyadari bahwa definisi fantasi ternyata semakin luas. Ia juga memahami bahwa fantasi bukan sekadar pelarian, melainkan memiliki korelasi dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa sastra di tengah masyarakat. 

Di akhir wawancara, Jehian menyampaikan harapannya untuk English Days ke depan. “Semoga semakin menyenangkan dan semakin banyak acaranya,” ujarnya.

Penulis: Sastra Inggris

KNB 26/27: Selamat Datang dan Semangat!

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Yogyakarta, 14 September 2026 – Tepat pada hari itu, enam mahasiswa dari program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) datang dari negara masing-masing ke INCULS. Mereka datang untuk menghadiri upacara pembukaan sekaligus memulai hari pertama pembelajaran mereka. Teman-teman yang yang telah ditunggu akhirnya tiba di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mengawali semester baru di lingkungan baru dan asing memang bukan sesuatu yang mudah. Perasaan seperti kekhawatiran, kesepian, dan ketakutan pasti ada. Upacara pembukaan ini tujuan salah satunya adalah untuk mengurangi perasaan-perasaan negatif itu. Dengan tujuan utama sebagai International Student Orientation (ISO) dan pembekalan untuk masa mereka di Indonesia. Karena untuk satu tahun yang akan datang mereka akan berada di Yogyakarta, di Indonesia. INCULS sebagai teman sekaligus tempat yang menaungi mereka, akan selalu berusaha membuat stay mereka di Jogja, menyenangkan.

Di INCULS, Bahasa Indonesia bukan satu-satunya yang diajarkan. Walau benar kebanyakan dari mahasiswa kami datang untuk belajar Bahasa Indonesia, pengajaran dan eksposur budaya juga sesuatu yang INCULS tawarkan  Dengan berbagai kesempatan menarik seperti berinteraksi dengan masyarakat Jogja, kegiatan study tour, dan berbagai kegiatan pembelajaran luar kelas lainnya.

Pada kegiatan seremonial ini, informasi penting mengenai pembelajaran dan pengenalan budaya di Jogja dipaparkan kepada mahasiswa BIPA baru INCULS. Hal-hal kecil seperti bagaimana makanan-minuman di Jogja; keseharian orang Jogja; norma-norma di Indonesia; dan sebagainya. Jadi para mahasiswa langsung dibekali informasi penting yang akan membantu mereka selama mereka di Indonesia juga memberi wawasan budaya yang baru bagi mereka.

INCULS berharap Program KNB, dapat memberi pendidikan berkualitas kepada teman-teman BIPA untuk terus berkembang dan menjadi jembatan antara Indonesia dengan dunia. Tidak hanya bahasa, namun juga budaya yang telah mereka pelajari dan resapi selama di INCULS untuk terus bermanfaat seterusnya. Semangat belajar teman-teman semua, mungkin akan ada titik di mana kalian merasa capek, tapi jangan berhenti terus berjalan. 

 

Ditulis oleh: Dydo Athaya Rafif dydoathayarafif@mail.ugm.ac.id

UGM melalui AAS–CHSS Perkuat Kapasitas Young Scholars dari Wilayah Pascakonflik Indonesia

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Yogyakarta, Jumat, 23 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menuntaskan program capacity building penulisan akademik selama lima hari bagi para peneliti muda dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia-Pasifik. Berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di kampus UGM, Yogyakarta, Indonesia, program ini menjadi ruang pengembangan kapasitas bagi peneliti muda, termasuk peserta dari wilayah pascakonflik di Indonesia, yakni Aceh, Ambon, Poso, dan Papua.

Program ini didukung oleh Swedish International Development Cooperation Agency (Sida) melalui Association for Asian Studies (AAS) dalam payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas akademik serta memperluas #equalopportunities bagi peneliti muda dari komunitas yang kurang terwakili, memastikan bahwa para sarjana dari wilayah marginal dan pascakonflik memperoleh dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang di ruang akademik internasional.

Kehadiran peserta dari Aceh, yakni Raihal Fajri dan Rachmad Setiawan, Ambon yakni Febby Winda Pelupessy dan Salmawati Rumada, Poso yakni Dwi Preti Natalia Tara’u dan Mariano Ombo, serta Papua yakni Marlon Arthur Huwae dan Rina Kurana Awom, menjadi penting dalam memperluas perspektif penelitian mengenai perdamaian, rekonsiliasi, hak asasi manusia, dan pembangunan pascakonflik. Keterlibatan mereka memperkaya program dengan menghadirkan pengalaman nyata #conflictresolution ke dalam dialog akademik.

Melalui lokakarya penulisan dan pertukaran pengetahuan, program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya akademik yang mengangkat pengalaman lokal sekaligus memperkuat kontribusi peneliti Indonesia dalam diskursus perdamaian di tingkat regional. Para peserta mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan artikel penelitian, mempertajam argumen, serta memosisikan pengetahuan lokal mereka dalam perdebatan akademik yang lebih luas mengenai #conflicts dan upaya penyelesaiannya.

Program AAS–CHSS di UGM juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring akademik lintas wilayah dan negara yang lebih inklusif, sekaligus membuka ruang bagi pengalaman masyarakat pascakonflik untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu humaniora dan ilmu sosial. Inisiatif ini secara langsung mendorong prinsip #educationforsustainability dengan menanamkan pembangunan kapasitas jangka panjang dalam praktik keilmuan.

Penyelenggara menegaskan bahwa #equalaccess terhadap pelatihan akademik masih menjadi tantangan yang dialami para sarjana dari wilayah pascakonflik, yang kerap menghadapi keterbatasan sumber daya institusional, isolasi geografis, dan dampak berkepanjangan dari kekerasan. Program ini dirancang untuk menghapus hambatan tersebut melalui partisipasi yang didukung penuh dan pendampingan yang disesuaikan, sehingga tidak ada sarjana yang tertinggal.

Lebih dari sekadar pengembangan keterampilan individu, pertemuan ini membangun solidaritas antarpeserta dari beragam latar belakang, menciptakan komunitas peneliti muda yang berkomitmen terhadap #equality dalam produksi pengetahuan. Penyelenggara mencatat bahwa kesetaraan sejati dalam dunia akademik tidak hanya menuntut representasi, tetapi juga redistribusi kesempatan dan sumber daya secara aktif kepada mereka yang selama ini tersingkir dari jejaring akademik arus utama.

Program ini juga menegaskan keterkaitan antara kebebasan akademik dan perdamaian yang berkelanjutan. Dengan membekali peneliti muda kemampuan untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengomunikasikan realitas komunitas mereka, inisiatif ini berkontribusi pada tujuan #educationforsustainability, mendorong lahirnya riset yang menginformasikan kebijakan, upaya rekonsiliasi, dan pembangunan sosial jangka panjang di masyarakat pascakonflik.

Para peserta menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan lintas batas negara dan kawasan telah memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan bersama dan beragam pendekatan dalam membangun perdamaian. Dialog lintas kawasan memungkinkan para sarjana dari Aceh, Ambon, Poso, dan Papua menghubungkan pengalaman lokal mereka dengan rekan-rekan dari negara lain di Asia Tenggara dan Asia-Pasifik, memperkuat komitmen kolektif terhadap #conflictresolution yang berlandaskan bukti dan empati.

Ke depan, UGM dan para mitra berencana menjaga keberlanjutan program melalui pendampingan lanjutan, dukungan publikasi, dan jejaring alumni. Universitas menegaskan kembali komitmennya untuk memajukan #equalopportunities dan #equalaccess dalam pendidikan tinggi, menjadikan program AAS–CHSS sebagai model bagaimana institusi akademik dapat secara bermakna mendukung sarjana yang kurang terwakili serta berkontribusi bagi masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

UGM dan SHAPE-SEA Mahidol University Thailand Berkolaborasi dalam Capacity Building Young Scholars di Southeast Asia

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Indonesia — Jumat, 23 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan SHAPE-SEA (Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN) dari Mahidol University, Thailand, menyelenggarakan program Capacity Building pada 19–23 Oktober 2026. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan menulis akademik bagi young scholars dari lima negara, yakni Indonesia, Filipina, Myanmar, Thailand, dan Papua New Guinea.

Program ini didukung oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan AAS dalam payung program CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Inisiatif ini mencerminkan komitmen kuat untuk memajukan education dan education for sustainability di kawasan Asia Tenggara, khususnya bagi para akademisi dari komunitas yang kurang terwakili.

SHAPE-SEA, yang juga merupakan HUB dari SIDA-AAS untuk Thailand, berperan sentral dalam kolaborasi ini. Sebagai organisasi yang berdedikasi pada penelitian hak asasi manusia dan perdamaian, keterlibatan SHAPE-SEA menegaskan pentingnya education in developing countries sebagai fondasi stabilitas kawasan dan kemajuan sosial.

Melalui program ini, SHAPE-SEA mengirimkan beberapa young scholars untuk mengikuti workshop penulisan, yaitu Casey Anne Cruz, Lailia Dhiah Indriani, Su Pan Htwar, dan Jarukit Kanokjaros. Para scholar ini membawa beragam topik riset, terutama yang berfokus pada isu peacebuilding, yang berkaitan erat dengan conflict resolution dan pencegahan conflicts di kawasan.

Selain para scholars, SHAPE-SEA juga mengirimkan dua pendamping, yakni Dr. Bidyalaxmi Salam dan Muhammad Diaz Kurniawan. Keduanya terlibat aktif dalam kegiatan survey terkait Theory of Change serta berbagai diskusi networking yang bertujuan memperkuat kerja sama akademik regional dan mendorong equality di antara para akademisi dari berbagai latar belakang.

Selama program lima hari ini, para peserta mendapatkan pendampingan intensif mengenai penulisan akademik, strategi publikasi, dan metodologi penelitian. Para mentor menekankan bahwa akses yang setara terhadap education merupakan elemen fundamental dalam mewujudkan equality, terutama bagi akademisi yang berasal dari wilayah terdampak konflik atau terpinggirkan di Asia Tenggara.

Pada kesempatan ini, SHAPE-SEA juga membagikan publikasi akademik hasil penelitian para scholars mereka kepada para peserta yang berasal dari wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia. Sesi berbagi pengetahuan ini dirancang untuk membangun jembatan antara para peneliti dan mendorong kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan regional.

Tema-tema yang diangkat para peserta menyoroti bagaimana education in developing countries berperan penting dalam conflict resolution. Beberapa makalah membahas bagaimana program pendidikan berbasis komunitas dapat menjadi alat yang efektif untuk peacebuilding, membantu masyarakat pulih dari conflicts dan mencegah kekerasan di masa depan melalui dialog dan pemahaman bersama.

Program ini juga menekankan pentingnya education for sustainability, mendorong para young scholars untuk merancang riset yang tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Education berkualitas, SDG 5 tentang Equality gender, dan SDG 16 tentang Peace, Justice, and Strong Institutions.

Para penyelenggara berharap program Capacity Building ini dapat menjadi tradisi tahunan yang memperkuat jejaring young scholars di Asia Tenggara. Dengan berinvestasi dalam education dan memberdayakan akademisi yang kurang terwakili, UGM dan SHAPE-SEA percaya bahwa dunia akademik dapat berkontribusi secara bermakna terhadap equality, pembangunan berkelanjutan, dan conflict resolution yang berkelanjutan di seluruh kawasan.

Kontributor: Jusma & Nada, 2026

Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

Rilis Berita Kamis, 29 Oktober 2026

Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan. Upaya tersebut dilakukan oleh Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) angkatan 2024. Berawal dari ketertarikannya terhadap tradisi lisan melalui perkuliahan, Ghibran berinisiatif menghidupkan kembali kesenian Gejog Lesung di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gejog lesung merupakan kesenian tradisional yang memanfaatkan bunyi ketukan lesung sebagai iringan musik. Lesung adalah alat berupa wadah kayu yang digunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras. Dalam perkembangannya, aktivitas menumbuk tersebut menghasilkan bunyi berirama yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pertunjukan kesenian. Dalam wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 22 September 2026, Ghibran menjelaskan bahwa pertunjukan Gejog Lesung biasanya memadukan ketukan lesung dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, seperti Gugur Gunung dan Prau Layar. Di Dusun Karang Tengah, kesenian ini dikenal melalui kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari.

Menurut penuturan Ghibran, keberadaan lesung memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Dusun Karang Tengah. Pada wilayah tersebut, ditemukan alat penumbuk berbahan batu, dinamakan watu lumpang yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 1632 Masehi. Tradisi menumbuk juga telah berlangsung sejak lama, salah satunya berkaitan dengan peran masyarakat Karang Tengah dalam menyediakan bahan konsumsi bagi para abdi dalem yang membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Pada masa itu, kegiatan menumbuk dilakukan untuk mengolah gabah menjadi beras. Seiring perkembangannya, alat penumbuk berbahan batu kemudian digantikan dengan lesung kayu yang dinilai lebih fleksibel untuk digunakan. Aktivitas menumbuk dengan lesung tersebut menghasilkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi itu tidak hanya mengiringi pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan semangat saat bekerja serta menjadi tontonan yang menghibur. Dari kebiasaan tersebut, kesenian Gejog Lesung kemudian berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat setempat.

Kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari terbentuk pada tahun 1965 dengan pertunjukan yang melibatkan para penumbuk lesung dan penyanyi lagu tradisional. Selanjutnya, di tahun 2000, kelompok ini mulai menghadirkan penari untuk memvisualisasikan isi lagu yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan lagu Gugur Gunung, para penari bergerak dengan menggambarkan kegiatan gotong royong. Perpaduan bunyi lesung, nyanyian, dan tarian tersebut menjadikan pertunjukan lebih beragam.

Dalam perjalanannya, Gejog Lesung Ngudi Lestari kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari ulang tahun desa, acara masyarakat, hingga acara kebudayaan. Kelompok ini juga pernah diundang tampil di Kanjengan, Imogiri, dalam rangka tradisi Kirab Siwur, yaitu prosesi mengarak siwur sebagai bagian dari rangkaian ritual nguras enceh. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membersihkan dan mengisi air pada wadah di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri. 

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kegiatan kesenian ini mengalami “mati suri” karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut mendorong Ghibran untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian kesenian di daerahnya. Ketertarikannya semakin berkembang ketika ia mengikuti mata kuliah Tradisi Lisan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Perkuliahan tersebut menjadi salah satu titik awal bagi Ghibran untuk mengenal tradisi gejog lesung lebih mendalam sekaligus mendorongnya untuk melakukan upaya pelestarian secara langsung. “Berkat adanya mata kuliah Tradisi Lisan, saya jadi terdorong untuk mengetahui lebih dalam tradisi ini serta menambah semangat saya untuk mengadakannya kembali,” terang Ghibran.

Selain berstatus sebagai mahasiswa, Ghibran aktif dalam organisasi kepemudaan Angkatan Muda-Mudi Islam (AMMI) Karang Tengah, khususnya pada divisi literasi dan edukasi. Melalui keterlibatannya dalam organisasi tersebut, ia menginisiasi pembentukan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation sebagai upaya meneruskan keberlangsungan kesenian yang sempat terhenti. Inisiatif ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda setempat sekaligus mengajak para sesepuh untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan mengenai kesenian gejog lesung. “Kami memulainya dari nol dan juga mengajak para sesepuh untuk mau mengajari. Mereka senang karena kesenian ini ada penerusnya,” tambahnya.

Upaya membangun kembali kelompok kesenian tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, Ghibran menghadapi kesulitan dalam mengajak generasi muda untuk terlibat. Meski demikian, pendekatan yang dilakukan secara bertahap mulai menumbuhkan antusiasme di antara para anggota. “Awalnya memang agak susah-susah gampang. Ada perasaan rendah diri, ada juga yang malu untuk melestarikan ini. Namun, Alhamdulillah, dengan upaya yang kuat, teman-teman jadi semangat dan bahkan ingin ada rencana latihan rutin tiap minggu,” jelas Ghibran.

Perlahan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation kembali tampil dengan memadukan ketukan lesung, nyanyian, tarian, dan kesenian ketoprak dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Penampilan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan kembali gejog lesung kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal. Upaya ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Wakil Bupati Bantul. Ke depannya, kesenian tersebut direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai program atau kegiatan kebudayaan.

Inisiatif Ghibran menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berawal dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui keterlibatan aktif generasi muda. Melalui pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan, dukungan organisasi kepemudaan, serta serta keterlibatan para sesepuh dalam pewarisan pengetahuan tradisi, tradisi yang sempat terhenti dapat kembali memperoleh ruang untuk berkembang. Upaya untuk nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menghidupkan’ budaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sekadar menjaga identitas semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

 

Penulis : Haryo Untoro

123…344

Rilis Berita

  • Book Party English Days 2026 Hadirkan Ruang Diskusi Fantasi yang Interaktif
  • KNB 26/27: Selamat Datang dan Semangat!
  • UGM melalui AAS–CHSS Perkuat Kapasitas Young Scholars dari Wilayah Pascakonflik Indonesia
  • UGM dan SHAPE-SEA Mahidol University Thailand Berkolaborasi dalam Capacity Building Young Scholars di Southeast Asia
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju