Pada hari Senin, 28 September 2026, para peserta residensi Malako Kociak melakukan
segelintir persebaran pengetahuan di lantai tujuh gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Persebaran pengetahuan ini dilakukan melalui beberapa media: pameran residensi, sesi boardgame, zine, dan diskusi kebudayaan. Peneliti dalam residensi ini meliputi Ulima Nabila Adinta, Afifah Golda A., Muhammad Ade Putra, Brilliant Dwi Izzulhaq, dan Yuniardo M. Alvarres yang juga menjadi fotografer dalam rangkaian penelitian. Mereka melakukan residensi penelitian selama satu pekan bersama Masyarakat Adat Kanagarian Malako Kociak yang letaknya di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan di lantai tujuh, acara pertama yang diselenggarakan adalah permainan boardgame.
Lima peserta sesi pertama bermain bersama di atas sebuah peta yang gambarnya mengindikasikan pemandangan alam, terkhusus sekitar sungai. Seorang pemandu memberikan
tutorial akan bagaimana permainan dapat dilakukan. Kelima peserta kira-kira bermain selama satu jam dengan intens, hingga peserta sesi kedua sudah tiba di lokasi permainan berlangsung. Setelah satu jam, pergantian pemain dilaksanakan, dan peserta sesi pertama dituntun untuk menonton penjelasan pameran oleh pemandu. Pameran dilaksanakan di depan ruangan Soegondo 709, dengan media foto-foto multi-exposure yang dicetak di atas kain, foto-foto yang dicetak di atas kertas-kertas kecil, beberapa figura, dan sebuah kain yang sudah dibercaki tekstur ikan.
Para pemandu menjelaskan konteks dari foto-foto tersebut, seperti bagaimana relasi masyarakat
Malako Kociak dengan ikan dan perairan, interaksi mereka dengan para datuk yang foto-fotonya
ditampilkan melalui media kain, hingga aktivitas anak-anak di sana. “Kalo ini datuk favorit
teman-teman residensi, tapi kalau ngobrol sama dia dua malam belum tentu selesai”, celetuk
Muhammad Ade Putra menunjuk foto salah satu datuk yang ditampilkan. Selain dari pameran foto dan visual, para peneliti juga menyediakan zine yang bisa diakses secara fisik maupun daring sebagai sarana penyebar pengetahuan lainnya. Dengan begitu, peserta residensi Malako Kociak membuktikan kalau penyebaran pengetahuan dapat dilakukan secara multidisiplin.
Penulis: Leonard Dimas
Kontributor Foto: Leonard Dimas

