• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Publikasi Ilmiah
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Kegiatan Mahasiswa
  • hal. 2
Arsip:

Kegiatan Mahasiswa

KMIB FIB UGM Selenggarakan Aksi Donor Darah: Wujud Nyata Kepedulian Sosial

Kegiatan MahasiswaRilis Berita Selasa, 25 November 2025

Yogyakarta, 19 November 2025 – Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB) FIB UGM sukses menyelenggarakan Aksi Donor Darah pada hari Rabu, 19 Desember 2025. Kegiatan kemanusiaan ini diselenggarakan di Ruang 202 gedung Poerbatjaraka FIB UGM, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman. Aksi ini merupakan salah satu program kerja sosial Departemen Hubungan Pelayanan Umat (HPU), sebagai manifestasi nyata dari komitmen mahasiswa untuk berkontribusi secara langsung dalam isu kemanusiaan dan sosial.

Kegiatan donor darah yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 11.00 pagi ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari berbagai pihak. Antusiasme datang tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga dari dosen, tenaga kependidikan dan masyarakat umum. Keberhasilan aksi ini, yang didukung penuh oleh pengurus KMIB, Fakultas Ilmu Budaya dan PMI Kabupaten Sleman, berhasil mengumpulkan donasi darah dalam jumlah yang signifikan. Capaian yang luar biasa ini menggarisbawahi semangat solidaritas yang kuat di lingkungan FIB UGM, dan kontribusi ini sangat membantu PMI dalam menjaga pasokan darah.

Aksi yang diprakarsai departemen HPU ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan darah, tetapi juga menjadi sarana edukasi kesehatan. Setiap calon pendonor berkesempatan menjalani pemeriksaan kesehatan dasar, seperti pengecekan tekanan darah dan kadar hemoglobin. KMIB berharap inisiatif positif ini dapat terus berdampak, menjadi wujud implementasi nilai-nilai kepedulian yang dijunjung tinggi oleh mahasiswa FIB UGM, dan dapat menjadi agenda yang berkelanjutan di masa mendatang.

Keberhasilan kegiatan ini memperkuat posisi KMIB FIB UGM sebagai organisasi mahasiswa yang aktif bergerak di berbagai lini, mulai dari kerohanian, budaya, hingga aksi sosial kemanusiaan. KMIB FIB UGM menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PMI Kabupaten Sleman atas kerjasamanya dan kepada seluruh pendonor yang telah menyumbangkan waktu dan darahnya dengan ikhlas. Kehadiran dan partisipasi aktif seluruh elemen kampus adalah kunci sukses terlaksananya Aksi Donor Darah ini.

Aksi donor darah ini secara nyata turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penyediaan stok darah yang aman dan kritis bagi layanan kesehatan masyarakat; SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan memastikan bahwa darah dapat diakses oleh semua kalangan yang membutuhkan tanpa memandang status sosial ekonomi; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) lewat penguatan ketahanan kesehatan masyarakat dengan menjamin ketersediaan sumber daya medis darurat; serta SDG 17 (Partnerships for The Goal) melalui kolaborasi yang efektif antara mahasiswa FIB UGM (KMIB) dengan Fakultas ilmu Budaya dan PMI Kabupaten Sleman.

Penulis: Hilmi Anugerah Alghani

Wamenlu RI Soroti Diplomasi Budaya sebagai Kunci Integrasi Indonesia-Dunia Islam dalam Kuliah Kebangsaan

HEADLINEKegiatan MahasiswaRilis Berita Jumat, 21 November 2025

Yogyakarta, 21 November 2025 – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, Lc., menegaskan bahwa peta jalan integrasi Indonesia dengan dunia Islam harus dibangun di atas kekuatan nilai budaya yang menjadi karakter peradaban bangsa. Materi ini beliau sampaikan pada kegiatan Kuliah Kebangsaan bertema “Peta Jalan Integrasi Indonesia dengan Dunia Islam: Menggali Nilai Budaya dalam Politik Luar Negeri Indonesia” yang berlangsung di Auditorium Poerbatjaraka, FIB UGM. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi LEM FIB UGM bersama MADARA UGM, IWDN, dan KMIB UGM.

Acara dibuka dengan rangkaian sambutan yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dan ruang akademik dalam membangun orientasi diplomasi Indonesia ke dunia Islam. Ketua LEM FIB UGM, Azky Zidane Qoimul Haq, menyoroti kontribusi mahasiswa melalui jalur intelektual, penelitian, dan diskusi kritis, sementara Prof. Dr. JM. Muslimin, M.A., selaku pembina IWDN, mengapresiasi penyelenggaraan forum ini dan berharap dialog lintas budaya semacam ini terus berlanjut sebagai upaya menyiapkan arah diplomasi Indonesia di masa mendatang.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., dekan FIB UGM, yang menegaskan komitmen fakultas untuk terus menghadirkan forum akademik strategis yang menghubungkan tradisi keilmuan humaniora dengan dinamika geopolitik global, agar mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca realitas tetapi juga turut membentuknya.

Memasuki sesi inti, Kuliah Kebangsaan dipandu oleh Nafesya Amrina Rosada, S.S. sebagai moderator yang mengarahkan diskusi secara efektif dan inklusif. Materi utama disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, Lc., yang menegaskan bahwa integrasi Indonesia dengan dunia Islam harus bertumpu pada kekuatan nilai budaya bangsa. Menurutnya, diplomasi Indonesia tidak cukup dibangun melalui kerja sama politik dan ekonomi, tetapi harus berangkat dari kontribusi nilai, identitas, dan peradaban yang menjadi karakter khas Indonesia.

Setelah pemaparan dari Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta, sesi diskusi memasuki tahap yang semakin interaktif dan mendalam. Topik mengenai konflik Israel Palestina menjadi pemantik utama yang membuat dinamika forum menghangat. Dalam ruang dialog tersebut, mengemuka pembacaan kritis bahwa kolonialisme Israel telah mengalami transformasi panjang dari kolonisasi etnis yang berorientasi pemindahan penduduk, menjadi kolonialisme ideologis yang bertumpu pada legitimasi religius, keamanan, dan nasionalisme. Praktik genosida dan pelanggaran HAM yang berlangsung secara sistematis menjadikan Israel semakin terisolasi di mata komunitas internasional, sekaligus mengikis dukungan global yang sebelumnya kuat di Barat.

Wakil Menteri menegaskan bahwa sikap Indonesia terhadap Palestina tetap teguh pada prinsip two-state solution dengan landasan moral utama berupa penyelamatan nyawa manusia sebelum membicarakan pilihan politik apa pun. Beliau juga menyampaikan bahwa spektrum dukungan Indonesia tidak lagi terbatas pada diplomasi kemanusiaan, tetapi berkembang menuju kesiapan dukungan pertahanan bila diperlukan, meskipun tetap menjaga independensi Indonesia dari polarisasi geopolitik dan blok ideologis global.

Pembahasan kemudian bergeser ke isu mengenai rencana pembangunan “Kampung Haji” di Makkah. Forum mengulas bahwa lonjakan jumlah jemaah haji Indonesia yang dapat menembus lebih dari dua ratus ribu orang setiap musim mendorong kebutuhan akan fasilitas terpadu yang mampu memberikan layanan akomodasi dan pusat aktivitas komunitas secara lebih terstruktur. Kawasan ini dirancang bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga sebagai penguatan eksistensi dan jejaring masyarakat Indonesia di Tanah Suci. Dalam rencana tersebut, Danantara diproyeksikan menjadi pihak pengelola pembangunan serta tata kelola kawasan agar berjalan profesional, modern, dan berkelanjutan.

Sesi diskusi semakin kaya ketika fokus forum beralih pada diplomasi kebudayaan sebagai penopang politik luar negeri. Wakil Menteri menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki karakter peradaban yang khas yakni sintesis harmonis antara agama, demokrasi, dan budaya. Identitas ini dinilai sebagai kekuatan strategis yang dapat memberikan kontribusi besar bagi dunia Islam. Namun beliau juga menyoroti tantangan internal berupa kecenderungan masyarakat Indonesia yang belum terbiasa mempromosikan keunggulan bangsanya sendiri di panggung internasional. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk menerjemahkan gagasan keagamaan, sosial, dan kebangsaan Indonesia ke dalam bahasa Arab agar dapat dikomunikasikan lebih efektif kepada publik Timur Tengah. Dengan demikian, diplomasi pemikiran dan diplomasi budaya dapat berpadu selaras dengan diplomasi politik.

Suasana hangat dan penuh apresiasi menutup rangkaian Kuliah Kebangsaan, yang memperluas wawasan tentang dinamika diplomasi Indonesia di dunia Islam sekaligus mempertegas kontribusi akademik terhadap agenda pembangunan global. Melalui penekanan pada diplomasi budaya, komitmen terhadap perdamaian Palestina, serta upaya menjembatani gagasan keagamaan dan kebangsaan Indonesia ke ranah internasional, kegiatan ini sejalan dengan berbagai tujuan SDGs, terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Penulis: Achmad Chozinatul Assror
Editor: Candra Solihin

Mahasiswa Magister Antropologi UGM Telusuri Jejak Dekolonialisme Sistem Pendidikan di Indonesia

AKADEMIKHEADLINEKegiatan MahasiswaRilis Berita Rabu, 19 November 2025

Yogyakarta, UGM — Program Studi Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada menggelar kuliah Paradigma dan Teori Antropologi di luar kelas bertajuk “Relevansi Dekolonialisme dalam Studi Antropologi” pada 4 November 2025. Dalam kegiatan ini, mahasiswa berjalan berpasangan dari Fakultas Ilmu Budaya menuju Gedung Pusat Balairung UGM sambil melakukan refleksi kritis tentang teori dekolonialisme serta relevansinya dalam praktik antropologi. 

Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A., selaku dosen pengampu, turut mengajak mahasiswa merefleksikan sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang merupakan jejak kolonialisme di Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang belajar alternatif yang mengajak mahasiswa menghayati langsung bagaimana warisan kolonial masih membentuk cara pandang, institusi, hingga kurikulum universitas saat ini. Dengan mengambil rute yang perjalan yang historis—dari Fakultas Ilmu Budayam hingga gedung Balairung UGM sebagai simbol birokrasi akademik—para mahasiswa merefleksikan bagaimana struktur pengetahuan modern sering kali masih menempatkan cara pandang Eropa sebagai pusat sistem pendidikan tinggi di Indonesia. 

Mengkritisi Sistem Pengetahuan yang “Membebani” Sejarah

Dalam kuliah ini, mahasiswa merujuk gagasan Boaventura de Sousa Santos (2024) mengenai bagaimana sejarah modern dibangun melalui “dominasi pengetahuan” yang menempatkan Eropa sebagai ukuran universal bagi kemajuan, rasionalitas, dan modernitas. Santos menekankan bahwa kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan tenaga kerja, tetapi juga melakukan epistemicide—penghapusan ataupun pengerdilan pengetahuan lokal—yang berdampak panjang pada masyarakat bekas kolonialisme.

Refleksi ini mengantarkan mahasiswa pada pemahaman bahwa antropologi sebagai disiplin ilmu perlu terus mengkaji ulang metode, kategori analitis, dan literatur yang digunakannya. Banyak teori klasik lahir dari konteks kolonial. Tanpa kesadaran kritis, antropologi berpotensi mengulang posisi hierarkis antara pengamat dan yang diamati.

Menimbang Sistem Pendidikan yang Masih Berjejak Kolonial

Selama perjalanan, mahasiswa mendiskusikan bagaimana UGM dibangun di atas struktur pendidikan kolonial yang menempatkan pengetahuan Barat sebagai standar baku. Praktik kurikulum, administrasi akademik, hingga penilaian ilmiah masih merefleksikan apa yang oleh Santos disebut “linearitas waktu modern”—gagasan bahwa Barat selalu berada di garis paling maju, sedangkan budaya lokal diposisikan sebagai tradisional, statis, dan tertinggal 

Dalam diskusi, mahasiswa menilai bahwa sistem kampus sering secara tidak sadar mengikis unsur-unsur budaya lokal, baik dalam cara mengajar, membaca, maupun memproduksi ilmu. Salah satu contohnya, praktik internasionalisasi kampus, yang kadang tanpa disadari lebih menonjolkan standar dan kebutuhan mahasiswa asing dibandingkan pengalaman mahasiswa lokal—dapat mencerminkan bias pengetahuan global yang masih berpusat pada perspektif Barat. 

Sita yang juga sebagai kepala Program Studi Magister, mengungkapkan bahwa beliau sangat bangga ketika Departemen Antropologi UGM menerima mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Baginya, keberagaman latar belakang mahasiswa lokal adalah kekuatan penting bagi pengembangan antropologi di tanah air. Ia menambahkan bahwa proses internasionalisasi kampus tentu tetap diperlukan, tetapi penerimaan mahasiswa asing—baik melalui skema student exchange maupun jalur lain—tidak seharusnya menggeser penghargaan terhadap keberagaman pengetahuan yang lahir dari pengalaman lokal para mahasiswa Indonesia sendiri. 

Dalam kegiatan kuliah luar kelas ini, Sita bersama para mahasiswa menyimpulkan bahwa dekolonisasi pendidikan tidak cukup dilakukan hanya dengan mengganti atau menambah materi ajar. Lebih dari itu, dekolonisasi menuntut upaya untuk membongkar struktur pengetahuan yang selama ini menentukan apa yang dianggap sah sebagai “ilmu”, serta membuka ruang yang lebih setara bagi berbagai cara mengetahui, termasuk yang berakar pada pengalaman dan kebudayaan Indonesia.

Upaya Mengembalikan Ruang bagi Pengetahuan Lokal

Kuliah luar kelas ini mendorong peserta mengidentifikasi bagaimana sistem-sistem kehidupan yang berorientasi Barat dapat menggerus, menyingkirkan, atau bahkan menghilangkan ekspresi pengetahuan dan budaya asli masyarakat Indonesia. Di sisi lain, mahasiswa juga merefleksikan aspek positif modernitas—seperti hak asasi manusia atau sistem hukum modern—yang menurut Santos dapat digunakan secara counter-hegemonic sebagai alat perlawanan dan pembelaan kelompok marjinal. 

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mengajak peserta mengkritik, tetapi juga membayangkan bagaimana kampus dapat mengembangkan ruang akademik yang lebih inklusif bagi keberagaman epistemologi—mulai dari pengetahuan adat, praktik keseharian, hingga narasi-narasi yang selama ini dianggap tidak ilmiah.

Melalui kuliah luar kelas ini, Magister Antropologi UGM menunjukkan bahwa pendidikan kritis dapat tumbuh dari langkah sederhana—dari gerak tubuh, perjalanan bersama, hingga refleksi kolektif. Dengan menelusuri jejak kolonial dalam ruang kampus, mahasiswa diajak tidak hanya mempelajari dekolonialisme, tetapi juga mempraktikkannya. Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen terhadap SDGs, khususnya pendidikan berkualitas dan pengurangan ketidaksetaraan, dengan mendorong cara belajar yang lebih adil, inklusif, dan peka terhadap keberagaman pengetahuan.

Referensi

Santos, B. (2024). Twelve theses on decolonizing history. NUML Journal of Critical Inquiry, 22(I). https://doi.org/10.52015/numljci.v22ii.287 

 

Penulis: Sandya Kirani

Talkshow Edukatif SEDASA: Suara Pemuda untuk Kemajuan Desa

HEADLINEKegiatan MahasiswaRilis BeritaSDGS Rabu, 19 November 2025

Yogyakarta, 27 September 2025 – Kolaborasi Ikatan Mahasiswa Sastra Arab (IKMASA) UGM dengan Departemen Pengembangan Masyarakat Desa BEM KM UGM menghadirkan acara inspiratif bertajuk Talkshow Edukatif SEDASA (Suara Pemuda untuk Kemajuan Desa) sebagai bagian dari rangkaian program Gemilang Desa 2025. Bertempat di Auditorium Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 27 September 2025 pukul 13.00–15.30 WIB dengan suasana penuh semangat dan antusiasme peserta.

Talkshow ini menghadirkan para pembicara inspiratif, yaitu Joko Susilo (Founder Gunungkidul Menginspirasi dan Head of Training and Consultancy Nalar Institute), Prof. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Pertanian UGM), serta KPH H. Yudanegara, Ph.D. (Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY) sebagai keynote speaker. Acara ini dipandu oleh Antonia Elena Listya Araminta, Duta Lingkungan DIY 2025, yang membawakan jalannya diskusi dengan hangat dan interaktif.

Sebagai inisiator utama dalam kegiatan ini, IKMASA berperan penting dalam menginisiasi konsep acara, menyusun rangkaian kegiatan, serta menggalang kolaborasi lintas lembaga untuk memperkuat keterlibatan pemuda dalam pembangunan desa. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan para ahli dan praktisi mengenai isu-isu desa di era modern, mulai dari pengembangan potensi lokal, pemanfaatan teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Acara ini juga dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa UGM, pelajar SMA/SMK di Yogyakarta, serta delegasi dari universitas lain seperti UPN dan UNDIP. Kehadiran lintas institusi ini menambah nilai kolaboratif dalam memperkuat semangat pemuda terhadap kemajuan desa.

Setelah sesi talkshow, panitia melanjutkan kegiatan dengan pembagian hadiah dan pengumuman juara berbagai lomba dalam rangkaian kompetisi Gemilang Desa 2025. Kegiatan kemudian ditutup secara resmi oleh Faris Zakiy Ramadhan, mahasiswa Sastra Arab 2023 sekaligus Koordinator Umum Gemilang Desa, yang menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam menghidupkan gagasan untuk desa.

Melalui kolaborasi antara IKMASA dan BEM KM UGM, acara ini tidak hanya menjadi ruang inspiratif bagi generasi muda untuk memahami isu-isu desa, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnership for the Goals).

Dengan semangat kolaborasi, Talkshow Edukatif SEDASA 2025 membuktikan bahwa mahasiswa UGM, melalui peran aktif IKMASA, mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi nyata bagi kemajuan desa dan masyarakat Indonesia.

 

Penulis: Lisa Atika

Korean Days 2025: Dua Dekade Harmoni Budaya Indonesia–Korea di UGM

HEADLINEKegiatan MahasiswaRilis BeritaSDGS Selasa, 18 November 2025

Yogyakarta, 15 November 2025 — Universitas Gadjah Mada kembali menjadi pusat perayaan budaya Korea melalui Festival Oullim Korea Yogyakarta: 20th Korean Day yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Perayaan dua dekade ini terjalin melalui kerja sama antara Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UGM dan Korean Cultural Center Indonesia (KCCI). Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., bersama Direktur KCCI, Kim Yong Woon, serta para tamu penting dari institusi pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya meresmikan pembukaan festival ini. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya program ini sebagai ruang interaksi budaya yang terus tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus.

Festival dibuka dengan semangat Oullim, yang berarti harmoni, dan diwujudkan melalui pertunjukan kolaboratif antara seni Indonesia dan Korea Selatan. Tarian topeng dan gamelan Jawa dipadukan dengan tari kipas dan bukchum (tari gendang) khas Korea, menghadirkan pertunjukan yang memukau bagi para penonton. Penampilan ini menjadi hasil kolaborasi intensif selama satu minggu antara para siswa SMKN 1 Kasihan dengan pelatih seni asal Korea Selatan. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UGM turut hadir sebagai pendamping dan interpreter, memastikan komunikasi serta proses latihan berjalan lancar hingga menghasilkan pertunjukan yang mendapatkan apresiasi luas dari seluruh tamu yang hadir.

Selain pertunjukan seni, festival ini juga dimeriahkan dengan rangkaian acara yang menampilkan kekayaan budaya Korea dalam berbagai bentuk. Penampilan Salmunori UGM, showcase musik dan tari, dongari exhibition, noraebang, hingga random play dance menambah kemeriahan suasana. Salah satu segmen yang paling mencuri perhatian adalah Hanbok Fashion Show yang menghadirkan karya-karya Leesle, desainer terkenal asal Korea Selatan yang kerap merancang busana untuk artis ternama. Pada kesempatan ini, Leesle menampilkan koleksi hanbok eksklusif yang memadukan bahan batik Indonesia, menghasilkan desain yang mencerminkan perpaduan harmonis antara dua tradisi budaya. Paduan warna, tekstur, dan siluet menciptakan visual yang menegaskan makna Oullim sebagai simbol kebersamaan yang menyatu secara serasi.

Atmosfer festival semakin meriah dengan hadirnya stan-stan kuliner khas Korea yang memberikan pengalaman gastronomi langsung kepada pengunjung, mulai dari tteokbokki hingga berbagai jajanan populer lainnya. Tidak hanya itu, Korea Tourism Organization (KTO) turut berpartisipasi dalam festival ini dengan menghadirkan informasi pariwisata Korea Selatan, aktivitas interaktif, dan promosi destinasi wisata. Berbagai institusi dan komunitas Korea lainnya juga mengambil bagian dalam kegiatan ini, memperkaya festival melalui program edukatif, hiburan, dan interaksi budaya yang inklusif. Partisipasi yang luas ini semakin mempertegas posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat perkembangan budaya Korea di Indonesia.

Rektor UGM dalam sambutannya menyampaikan bahwa dua dekade penyelenggaraan Korean Day merupakan bukti kuatnya hubungan budaya antara Yogyakarta dan Korea Selatan, sekaligus mencerminkan peran universitas dalam mendorong kolaborasi internasional. Festival ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkaya wawasan mahasiswa dan memperluas jejaring global UGM melalui hubungan yang saling menguntungkan. Dengan mengusung semangat Oullim, festival ini membentuk lingkungan yang terbuka terhadap keberagaman dan mendorong apresiasi budaya yang saling memperkaya di antara dua bangsa.

Melalui Festival Oullim Korea Yogyakarta 2025, UGM berharap kolaborasi di bidang kebudayaan, pendidikan, dan pertukaran akademik antara Indonesia dan Korea Selatan semakin berkembang. Penyelenggaraan ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran lintas budaya; SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan melalui pelestarian seni dan tradisi; serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama erat antara universitas, pemerintah, dan lembaga budaya internasional. Dengan demikian, Festival Oullim menjadi perayaan seni sekaligus kontribusi nyata dalam membangun hubungan global yang harmonis dan berkelanjutan.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

123

Rilis Berita

  • Penyaluran Dana Bantuan dari Masjid Jogokariyan Untuk 18 Mahasiswa FIB UGM yang Terdampak Bencana Banjir Sumatera
  • Pisah Sambut Pejabat Fakultas Ilmu Budaya
  • Undoukai HIMAJE BKJ UGM: Kompetisi Olahraga untuk Pererat Kekeluargaan Mahasiswa dan Dosen
  • Bunkasai HIMAJE BKJ UGM: “Natsu no Bunkasai” Hadirkan Festival Budaya Jepang di FIB UGM
  • Hiryou Aikai HIMAJE UGM Rayakan Akhir UAS dengan Masak Gyudon Bersama

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju