• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • HEADLINE
  • hal. 147
Arsip:

HEADLINE

Sejarah Sosial Orde Baru dan Modernitas di Kota Makassar*

HEADLINENews Release Jumat, 18 April 2014

Hal yang kontras antara sejarah sosial yang kurang mendapat perhatian pada era Orde Baru dan modernitas masyarakat beserta infrastruktur perkotaan yang dianggap sebagai “kelebihan” Orde Baru. Kedua hal itu disampaikan oleh dua pebicara, Toeti Kakialatu, mantan Wartawan Istana pada era Orde Baru dan Ilham Daeng Makelo, dosen pada Jurusan Sejarah Universitas Hassanudin Makassar di Aula Gedung Margono FIB UGM,Rabu 16 Mei 2014. 

Menurut pemaparan Toeti, Salah satu kajian yang kurang mendapat perhatian dalam sejarah orde baru  adalah sejarah sosial, padahal elemen-elemen sosial yang menjadi “bungkus” dari politik kekuasaan yang dijalankan Suharto sangat membekas dalam ingatan sosial dan melembaga dalam kehidupan kemasyarakatan masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam. Majelis Ta’lim yang didirikan untuk mengakomodasi aktivitas sosial keagamaan menjadi begitu kuat sebagai “sampul sosial” untuk mewujudkan tujuan lain dari orde Baru. Menguatnya peran dan kehadiran perempuan dalam ranah legislatif juga sebagian diperkuat pada era Suharto melalui pendidikan organisasi sosial keagamaan Majelis Ta’lim Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh perempuan seperti Tuti Alawiyah dan lainnya menjadi bukti peran tersebut, lanjut Toeti Kakialatu dalam presentasinya yang berjudul “Sejarah Sosial Era Orde Baru”.

Pemakalah kedua yang tampil dalam forum ini adalah Ilham Daeng Makello. Menurut Ilham Era Orde Baru yang dikenal sebagai orde pembangunan juga menjadi pemberi “warna baru” dalam modernitas di kota-kota Indonesia. Meskipun realitas modernitas di kota-Kota Indonesia sudah dimulai sejak awal Abad ke-20. Lebih lanjut ilham mengatakan bahwa  “Kota Makassar adalah salah satu kota yang mengalami pekembangan signifikan dalam arus modernisasi. Gaya Hidup dan perluasan morfologis kota beserta dampak yang mengikutinya melahirkan sisi lain yang juga meragukan terhadap apa yang disebut modernitas. Perilaku masyarakat perkotaan  yang menyertai perkembangan modernitas kota seperti banyaknya tindakan kriminal, penyerobotan tanah, hadirnya kantong-kantong pemukiman liar (slum area), konflik, dan mengalirnya arus urbanisasi ke kota melahirkan keruwetan tersendiri dalam mengatur dan mengembangakan kota Makassar sebagai kota modern”.

Turut hadir dalam seminar yang digagas oleh Mahasiswa Program Pendidikan Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tersebut adalah Dr. Agus Suwignyo dari Jurusan Sejarah UGM sebagai pembahas. Menurut Dr. Agus, kajian-kajian sejarah era orde baru memang sudah banyak, tetapi masih miskin perspektif. Oleh karena itu, objek kajian yang sama yang dikaji dengan perspektif yang berbeda akan menambah kemajuan dalam ilmu pengetahuan Indonesia, termasuk dalam disiplin sejarah dan sastra. Dalam konteks itu kedua makalah yang dipaparkan sudah dalam bingkai perspektif yang baru itu. Konsep transformasi yang digunakan untuk menjelaskan perkembangan modernitas di Kota Makassar menjadi relevan dengan catatan menghadirkan banyak elemen-elemen kota yang masih terus mengalami perubahan menjadi kota modern. Demikian halnya dengan sejarah sosial Orde Baru, sejauh mungkin bisa menghadirkan sisi sosial yang lebih luas terhadap era yang masih “membingungkan” sebagian masyarakat Indonesia, khususnya pada masyarakat bawah. (-ode–, contributor; mahasiswa S3, Ilmu Sejarah FIB-UGM)

*Hasil Seminar Program Pendidikan Doktor, Fakultas Ilmu Budaya UGM

How to Get Your Research Published Internationally

AGENDAHEADLINESTICKY NEWS Rabu, 16 April 2014

Brill Publishing Workshop at Universitas Gadjah Mada

April 28, 2014 

at Ruang Sidang 1 FIB UGM; at 9 a.m.

About Brill
Brill (www.brill.com) is a leading international academic publisher founded in 1683 in Leiden, the Netherlands. It publishes over 200 journals and around 700 books each year in 20 main subject areas in the Humanities, Social Sciences, International Law and Biology. Brill also markets a large number of primary source research collections and online reference databases.
With a tradition of academic publications, particularly in the area of South-East Asian Studies dating back to the 19th century, Brill has published extensively on the rich cultural heritage of Indonesia and is doing so nowadays increasingly through local partnerships and cooperation in the region. In 2012 KITLV Press became part of Brill and KITLV titles are now being published by Brill. Brill highly welcomes an opportunity to meet with Indonesian academics and researchers to seek partnerships and explore opportunities for cooperation in the area of publication.

About the Workshop
This 3 hour workshop introduces Indonesian academics and PhD students to international publishing and sets out what requirements are needed to get your research published internationally.

Publication Proposals
Publication proposals in any of the areas that Brill publishes in are welcomed. For an overview of the subjects Brill publishes in, go to our website: www.brill.com.

registration: Sandy (0877 3981 9257) / sandya.fib@ugm.ac.id
please attach your current/on going research’s abstract or proposal via e-mail

FIB Weekly Forum: Sastra Cyber

AGENDAHEADLINE Kamis, 10 April 2014

Pemateri :  Heru Marwata
(Sastra Indonesia FIB UGM)
Kamis, 10 April 2014
Ruang Sidang 1 FIB UGM ; Pukul 13.00
Terbuka Untuk Umum & Disediakan Kudapan

Karya sastra tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Sastra selalu menjadi penanda, perekam, penafsir, dan penanggap semesta. Sebaliknya, fenomena, perubahan, sejarah, dan berbagai aspek dalam kehidupan juga mempengaruhi perkembangan sastra. Begitulah yang terjadi pada tahun 1990-an.

Kemajuan teknologi, kebebasan berekspresi pascareformasi, berbagai kemudahan komunikasi, dan berkembang luasnya media informasi, serta hiruk pikuk pemanfaatan jejaring sosial telah memicu tumbuh suburnya sastra yang kemudian disebut sebagai sastra cyber. Apakah sastra cyber itu, kapan mulai muncul, apa medianya, bagaimana karakteristiknya, bagaimana sejarah perkembangan terkininya, mari kita diskusikan dalam Weekly Forum FIB UGM yang akan digelar pada Kamis, 10 April 2014 di Ruang Sidang I FIB UGM.

Dulu, Industri Kretek Milik Pribumi

HEADLINENews Release Kamis, 27 Maret 2014

Kretek menjadi fenomena menarik di Indonesia. Selama ini kretek selalu dikaitkan dengan kesehatan, kebijakan politik, sampai hubungannya dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Namun sangat jarang yang mengkaji kretek dari sisi historisnya. Sejawaran UGM, Dr. Sri Margana, M.Phil, mengatakan industri kretek dulu pernah menjadi tulang punggung perekonomian Hindia Belanda saat terjadi depresi ekonomi tahun 1930-an. “Saat itu semua perusahaan-perusahaan besar milik Hindia Belanda hancur dihantam depresi ekonomi,” terangnya.

Industri kretek yang berbasis di desa dan dalam skala rumahan saat itu justru mengalami perkembangan yang sangat pesat. Margana menyebutkan, satu-satunya industri milik pribumi adalah industri kretek. “Tapi kita tidak akan menemukan orang pribumi menjadi direktur perusahaan-perusahaan besar saat itu,” kata Margana dalam peluncurkan buku yang ditulisnya, Kretek Indonesia dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya di Ruang Seminar Perpustakaan UGM, Kamis (27/3).

Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini menambahkan, saat itu industri kretek sebagai sumber ekonomi para pribumi. Hal itu dikarenakan dari hulu ke hilir, seluruh bahan baku pembuatan kretek bersasal dari orang-orang pribumi. “Jika di industri kolonial kita hanya menjadi kuli, tidak demikian dengan industri kretek,” imbuhnya.

Selain itu, kretek juga ikut membangun jaringan ekonomi yang sangat luas. Dari pemilik toko, asongan, warung-warung, dan pekerja industri rokok menggantungkan hidupnya dari kretek. Lebih dari itu, kretek sebagai warisan budaya justru  terdapat pada rasa dan aroma kretek khas masyarakat pribumi. “Keunikan proses inilah yang bisa mengkategorikan kretek sebagai warisan budaya. Apalagi ramuan dalam setiap merk diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.

Margana mengisahkan, gagasan menulis buku ini timbul dari keinginan menambah khasanah kajian kretek di Indonesia. Ia menegaskan, tim penulis buku ini tidak ingin terjebak pada kebijakan kesehatan atau mendukung industri rokok. “Buku ini merupakan penafsiran atas fakta-fakta sejarah yang terjadi pada industri keretek di Indonesia awal abad ke-20,” ungkapnya.

Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum, berpandangan bahwa rokok selalu identik dengan asap. “Tidak ada kretek kalau tidak ada asap,” tuturnya. Baginya, esensi kenikmatan merokok berasal dari asap yang dihasilkan. “Asap rokok itu kan rasanya berbeda-beda, setiap orang punya seleranya masing-masing,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC), Dianita Sugiyo, S.Kep., NS., MHID., menilai rokok dari sisi dampak bahaya rokok yang ditimbulkan. Menurutnya, zat-zat adiktif dalam rokok sangat berbahaya. Ia menjelaskan, asap rokok yang dihasilkan dari pembakaran rokok mencapai 16,9 mg/batang. “Padahal, untuk mengiritasi mata hanya cukup dengan 58 mikrogram,” paparnya.[]

 

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/8842-dulu.industri.kretek.milik.pribumi

Kenyamanan Berwisata Jadikan Keistimewaan Pariwisata Jogja

HEADLINENews Release Rabu, 26 Maret 2014

Yogyakarta masih menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sayangnya, tingginya kunjungan wisatawan belum didukung dengan fasilitas memadai yang memberi kenyamanan berwisata. Hal itu dapat dilihat mulai dari kurangnya kantong parkir, kemacetan, menjamurnya sampah visual hingga lingkungan yang kurang tertata. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani dikhawatirkan akan mengurangi keistimewaan pariwisata Yogyakarta. Bahkan kondisi demikian dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung.

Antropolog UGM,  Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra menyebutkan untuk mewujudkan keistimewaan Yogyakarta dalam bidang pariwisata dapat dilakukan dengan menjadikan kota pelajar ini sebagai tempat yang nyaman bagi semua orang. Pasalnya keistimewaan pariwisata Yogyakarta terletak pada nuansa kenyamanan yang ditawarkan melalui masyarakat yang akrab, hangat, dan lingkungan yang nyaman.

“Harapannya kedepan akan ada perda untuk mengatasai berbagai persoalan yang membelit Yogyakarta. Bagaimana membuat Yogyakarta sebagai sebuah kota yang terlihat keistimewaanya, kekhasannya, ngangeni, tetapi kenyamanannya tidak hilang,” paparnya dalam seminar “Mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta Dalam Pariwisata” Rabu (26/3) di Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM.

Menurutnya situasi yang semakin tidak nyaman akan menghilangkan keistimewaan Yogyakarta. Karenanya perlu segera dilakukan penanganan untuk mengembalikan kenyamanan Yogyakarta.

“Tidak sedikit yang juga mengeluh merasa tidak nyaman lagi. Jogja tidak lagi berhati nyaman, tetapi berhenti nyaman. Kalau sudah tidak nyaman keistimewaan Yogyakarta akan hilang,” terangnya.

Heddy berkeyakinan melalui kerjasama dengan berbagai pihak terkait dan antarsektor, penanganan permasalahan tersebut bisa komperehensif. Dengan begitu pariwisata Yogayakarta bisa berkembang dengan baik.

“Artinya wisatawan tambah banyak, tetapi tidak terjebak dengan persoalan kemacetan, lingkungan kumuh, kurang parkir dan lainnya. Yang dibutuhkan pengaturan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Heddy juga menyinggung tentang wisata budaya tradisi alit yang belum banyak dikembangkan Yogyakarta. Padahal DIY memiliki potensi besar terhadap wisata ini.

“Sebetulnya banyak yang bisa dikembangkan, misalnya kesenian-kesenian di masyarakat pedesaan. Sayangnya wisata tradisi alit masih kurang mendapat perhatian. Pengembangan pariwisata Yogyakarta masih terfokus pada wisata tradisi ageng,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Ir. Chafid Fandeli, M.S, peneliti Puspar UGM. Menurutnya banyak wisata tradisi alit di DIY yang bisa dikembangkan untuk pariwisata. Hanya saja belum banyak pihak yang melirik wisata di tingkat masyarakat ini.

“Keistimewaan Jogja harus digali, masih banyak yang perlu diungkap salah satunya wisata tradisi alit,” katanya.

Chafid menuturkan dari wisata tradisi alit tidak hanya akan memberikan manfaat bagi kehidupan ekonomi masyarakat bawah. Namun ia meyakini dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk melakukan kunjungan ke Yogyakarta.[]

 

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/8840-kenyamanan.berwisata.jadikan.keistimewaan.pariwisata.jogja

1…145146147148149150

Rilis Berita

  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
  • Ziarah Makam Sawitsari, Agenda Rutinan FIB UGM Menyambut Dies Natalis ke-80
  • Prof. Suhandano Soroti Tantangan Studi Bahasa di Era Digital pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM
  • FIB UGM Berikan Penghargaan Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis ke-80
  • Mahasiswa FIB UGM Ciptakan Buku Pop-Up “8 Dekade Membangun Peradaban” untuk Visualisasikan Sejarah Fakultas

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju