Yogyakarta – 27 Juni 2026 — Dalam rangka mewujudkan komitmen Universitas Gadjah Mada untuk mengabdi pada kepentingan bangsa dan kemanusiaan, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Budaya senantiasa mendukung usaha pemerintah dan masyarakat dalam menuju tatanan kehidupan yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Oleh karena itulah, hingga hari ini Program Studi Bahasa dan Korea UGM selalu proaktif mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program unggulan pemerintah, khususnya yang berhubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan bekerja di Korea Selatan.
Sebelumnya, bersama dengan pengelola LPK Bina Insani MTC sekaligus ketua PELBAKORI (Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Korea di Indonesia) dilakukan pemetaan permasalahan yang pada umumnya dihadapi oleh PMI di Korea. Diketahui bahwa meskipun telah memiliki penguasaan bahasa Korea yang cukup, sesampai di Korea ternyata banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Permasalahan tersebut tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan bahasa, tetapi juga oleh kurangnya pemahaman terhadap masalah sosial dan budaya Korea. Kondisi ini seringkali menimbulkan culture shock, kesalahpahaman komunikasi, bahkan berdampak pada performa kerja serta keberlangsungan kontrak kerja PMI di Korea.
Dengan latar belakang tersebut, pada hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2026, bertempat di LPK Bina Insani MTC, Yogyakarta diselenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berjudul “Lokakarya Adaptasi Budaya dan Etika Kerja di Korea bagi Calon PMI Korea”. Lokakarya yang diikuti oleh 60 orang calon PMI Korea dan instruktur LPK ini melibatkan lima dosen prodi sebagai pemateri, yaitu Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., Yuliawati Dwi Widyaningrum, S.S., M.A., Sri Wahyuningsih, S.S., M.A., dan Andri Saefudin, B.A., M.A.
Pada sesi pertama, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. membahas tentang “Kunci Sukses di Korea Bukan Hanya Kerja Keras, tetapi Kerja Cerdas dengan Memahami Budaya dan Menjaga Martabat Diri”. Kemudian, pada sesi kedua, Andri Saefudin, B.A., M.A. memaparkan tentang “Bekal Penting PMI di Korea Selatan: Hak, Kewajiban, dan Aturan Sehari-Hari”. Dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan seluruh dosen yang hadir.
Melalui lokakarya ini, diharapkan seluruh peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai budaya kerja Korea, termasuk karakteristik kerja cepat (pali-pali), sistem hierarki, etika komunikasi di tempat kerja, hak dan kewajiban PMI serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan fisik di Korea. Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, FIB, UGM tidak hanya sekedar berperan sebagai penyedia pendidikan formal tentang Studi Korea, tetapi juga berpartisipasi langsung memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat.
Penulis: Yuliawati Dwi Widyaningrum
