Yogyakarta, 6 Juli 2026 — Sastrawan sekaligus jurnalis, Linda Christanty, membagikan pengalamannya menyusun kisah kemanusian berbasis reportase dalam diskusi “Dari Reportase ke Karya Sastra” yang dilaksanakan di Ruang Multimedia, Gedung Margono Lt. 2, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Senin (6/7/2026). Diskusi ini diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), beserta Bentara Budaya dan ELTI Jogja. Acara yang dihadiri 50 lebih orang dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga komunitas ini dimoderatori oleh Nafiis Anshaari dan Prof. Dr. Aprinus Salam ikut serta memperkaya dengan membedah cerita pendek karya Linda Christanty berjudul “Seekor Anjing Mati di Bala Murghab”.
Linda dikenal luas melalui karya-karya jurnalistiknya yang terkenal, dan dalam kesempatan ini ia turut menyampaikan keresahannya terhadap minat penerbit pada karyanya. “Meskipun belum ada yang tertarik, akan tetap diterbitkan agar generasi baru bisa membaca dan tau cerita-cerita pendek lainnya”, ujar Linda, menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan karya sastra ke publik meski tantangan pada penerbitan tidak selalu mudah.
Sementara itu, Prof. Dr. Aprinus Salam turut berbagi cerita tentang perjumpaannya dengan karya-karya Linda. “Saya mengenal sudah lama, berawal dari cerpen mbak Linda yang muncul di Kompas dan kami saat itu mengikuti dan membacanya,” katanya, menggambarkan bagaimana tulisan-tulisan Linda di media massa telah menjadi bacaan yang diikuti kalangan akademisi sejak awal kemunculannya.
Diskusi turut menyinggung bagaimana karya sastra bisa lahir dari jurnalistik, mengutip gagasan Seno Gumira dalam “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara” sebagai salah satu rujukan. Dari situ, forum mengulik lebih jauh keterkaitan antara dunia jurnalistik dan karya sastra — bagaimana reportase dan fakta dapat diolah menjadi narasi, sekaligus menjadi jembatan bagi generasi baru untuk mengenal ragam cerita pendek yang belum banyak terekspos. Diskusi diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan kepada dua narasumber, lalu pemberian apresiasi berupa voucher belanja Gramedia yang diberikan dari Bentara Budaya dan kepada 5 penanya beruntung, dan terakhir dokumentasi bersama.
Semangat ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas yang mendorong akses literasi bagi generasi muda, dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan bersama, di mana kolaborasi yang melibatkan Bentara Budaya, KPG, ELTI Jogja, kalangan akademisi, hingga peserta diskusi bersinergi berbagai pihak menjadi kunci untuk memperluas akses literasi dan menjaga keberlangsungan karya sastra di tengah masyarakat.
Penulis: G Nathania Yolanda & Lina (沈孟樺)
