, 24 Februari 2026, menjadi hari kelulusan bagi sepuluh mahasiswa Sastra Inggris FIB UGM. Kesepuluh wisudawan tersebut adalah Afra Sausan Putri, S.S., Cecilia Ade Natasya, S.S., Jardin Urbania Basundoro, S.S., Shimping Fitriana Dwi Fatmawati S.S., Saidatunnisa, S.S., Khairunisa Diva Dijah Adji, S.S., Maura Thirza Azzahra, S.S., Safira Dwihapsari Pratiwi, S.S., Florinesya Zahwa Raihania, S.S., and Yosafira Alma Kartika, S.S. Upacara wisuda dilaksanakan di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, sebelum para wisudawan dari Sastra Inggris bergeser ke Gedung Poerbatjaraka di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) untuk menghadiri acara Mangayubagya.
Setelah acara Mangayubagya, dua wisudawan dari Sastra Inggris, Maura dan Florinesya, dengan senang hati menceritakan sekilas pengalaman mereka selama perkuliahan dan perasaan mereka di tengah-tengah momentum yang menandai perubahan besar dalam hidup mereka. Maura mengutarakan bahwa ia merasa lega setelah menyelesaikan studinya, tetapi ia tak bisa menampik perasaan bittersweet yang menyelimutinya. “Karena kita udah bakal pisah sama temen-temen kuliah—tapi akhirnya selesai juga,” ujarnya.
Bagi Florinesya, rasa syukur dan senang mendominasi dirinya di hari yang istimewa ini. Ia menjelaskan bahwa melihat banyak orang merayakan kelulusannya hari ini membuatnya bersyukur bisa menjadi salah satu di antara mereka. Florinesya juga menyebutkan bahwa perjalanannya sampai ke titik ini tidaklah mudah, tetapi ia berterima kasih karena bertemu banyak orang yang mendukungnya di Sastra Inggris. “Lingkungan belajarnya sangat-sangat menyenangkan, orang-orangnya sangat membantu—meskipun banyak jatuh bangunnya,” terangnya.
Mengulas kembali masa-masa kuliahnya, tantangan terbesar Florinesya adalah menghadapi jadwalnya yang amat ketat, terutama menyeimbangkan antara aktivitas akademik dan organisasi. “Aku merasa kadang gak bisa keep up dengan teman-teman yang mungkin progresnya lebih jauh, karena aku banyak fokus sama event-event di luar juga,” jelas Florinesya. Maura juga merasa akademik menjadi kesulitan terbesarnya, “Untuk ngikutin [di kelas], aku juga harus belajar lebih.”
Meskipun begitu, banyak kenangan indah yang mewarnai pengalaman kuliah mereka. Maura menyebut pertemanan sebagai hal yang membuat pengalaman kuliahnya dipenuhi kebahagiaan. “Apalagi di FIB, menurut aku toleransinya sangat besar, terus kita bisa jadi diri kita sendiri tanpa orang lain nge-judge,” ungkap Maura. Di sisi lain, Florinesya menyebutkan English Days, acara Dies Natalis Departemen Bahasa Inggris, sebagai pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam padanya selama masa kuliah. “Karena aku ketua ED [English Days] dan selama itu aku ketemu banyak orang yang sangat membantu,” kenangnya.
Dalam menulis tugas akhir mereka sebagai syarat kelulusan, baik Florinesya maupun Maura termotivasi oleh ketertarikan mereka dalam bidang sastra. Maura menceritakan bahwa skripsinya yang berjudul The Subversive Child and Imaginative Power: Challenging Authority in Salman Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories berangkat dari ketertarikannya terhadap sastra anak. Florinesya juga mengaku menikmati topik skripsinya, Mapping the Crisis of Witnessing: A Dialectic Vicarious Trauma Analysis of the Contradictory Narrative in Colleen Hoover’s Verity. Lebih lanjut, ia mengungkapkan fakta mengejutkan: hanya butuh tiga minggu untuk menyelesaikan skripsinya.
Sekarang, setelah masa perkuliahan resmi berakhir dan mereka bersiap untuk melangkah lebih jauh dalam hidup, Maura dan Florinesya memiliki rencana yang sama untuk masa depan. Keduanya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana. “Aku suka belajar dan aku merasa mumpung semangat belajar masih ada juga, jadi aku pengen langsung S-2,” kata Florinesya. Teruntuk Maura, ia berencana untuk terjun ke dunia kerja terlebih dahulu sembari mencari beasiswa pascasarjana di mancanegara.[
Di mana pun mereka berada, jalan apa pun yang mereka tempuh, kami berharap para alumnus Sastra Inggris dapat berkembang dan sukses dengan cara mereka sendiri. Selamat atas kelulusannya!
Penulis: Gulma Zahra Auradatu
