Program ini didukung oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan AAS dalam payung program CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Inisiatif ini mencerminkan komitmen kuat untuk memajukan education dan education for sustainability di kawasan Asia Tenggara, khususnya bagi para akademisi dari komunitas yang kurang terwakili.
SHAPE-SEA, yang juga merupakan HUB dari SIDA-AAS untuk Thailand, berperan sentral dalam kolaborasi ini. Sebagai organisasi yang berdedikasi pada penelitian hak asasi manusia dan perdamaian, keterlibatan SHAPE-SEA menegaskan pentingnya education in developing countries sebagai fondasi stabilitas kawasan dan kemajuan sosial.
Melalui program ini, SHAPE-SEA mengirimkan beberapa young scholars untuk mengikuti workshop penulisan, yaitu Casey Anne Cruz, Lailia Dhiah Indriani, Su Pan Htwar, dan Jarukit Kanokjaros. Para scholar ini membawa beragam topik riset, terutama yang berfokus pada isu peacebuilding, yang berkaitan erat dengan conflict resolution dan pencegahan conflicts di kawasan.
Selain para scholars, SHAPE-SEA juga mengirimkan dua pendamping, yakni Dr. Bidyalaxmi Salam dan Muhammad Diaz Kurniawan. Keduanya terlibat aktif dalam kegiatan survey terkait Theory of Change serta berbagai diskusi networking yang bertujuan memperkuat kerja sama akademik regional dan mendorong equality di antara para akademisi dari berbagai latar belakang.
Selama program lima hari ini, para peserta mendapatkan pendampingan intensif mengenai penulisan akademik, strategi publikasi, dan metodologi penelitian. Para mentor menekankan bahwa akses yang setara terhadap education merupakan elemen fundamental dalam mewujudkan equality, terutama bagi akademisi yang berasal dari wilayah terdampak konflik atau terpinggirkan di Asia Tenggara.
Pada kesempatan ini, SHAPE-SEA juga membagikan publikasi akademik hasil penelitian para scholars mereka kepada para peserta yang berasal dari wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia. Sesi berbagi pengetahuan ini dirancang untuk membangun jembatan antara para peneliti dan mendorong kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan regional.
Tema-tema yang diangkat para peserta menyoroti bagaimana education in developing countries berperan penting dalam conflict resolution. Beberapa makalah membahas bagaimana program pendidikan berbasis komunitas dapat menjadi alat yang efektif untuk peacebuilding, membantu masyarakat pulih dari conflicts dan mencegah kekerasan di masa depan melalui dialog dan pemahaman bersama.
Program ini juga menekankan pentingnya education for sustainability, mendorong para young scholars untuk merancang riset yang tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Education berkualitas, SDG 5 tentang Equality gender, dan SDG 16 tentang Peace, Justice, and Strong Institutions.
Para penyelenggara berharap program Capacity Building ini dapat menjadi tradisi tahunan yang memperkuat jejaring young scholars di Asia Tenggara. Dengan berinvestasi dalam education dan memberdayakan akademisi yang kurang terwakili, UGM dan SHAPE-SEA percaya bahwa dunia akademik dapat berkontribusi secara bermakna terhadap equality, pembangunan berkelanjutan, dan conflict resolution yang berkelanjutan di seluruh kawasan.
Kontributor: Jusma & Nada, 2026
