CHSS 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan akademisi dan perwakilan HUB dari berbagai negara di Asia. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara serta mendorong pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial yang mampu menjawab tantangan kontemporer, termasuk isu keberagaman budaya (cultural diversity) dan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability).
Universitas Gadjah Mada berpartisipasi melalui tiga perwakilan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yaitu Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani. Kehadiran ketiga akademisi ini menunjukkan peran aktif FIB UGM dalam jejaring akademik internasional di kawasan Asia.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM menyelenggarakan sesi panel bertajuk “Endangered Languages in Indonesia and Pakistan: Ideas to Mitigate” pada Minggu, 27 September 2026. Panel ini menjadi salah satu sesi unggulan yang menarik perhatian banyak peserta konferensi.
Panel tersebut membahas kerentanan bahasa terancam punah di Indonesia dan Pakistan melalui tiga studi kasus, yaitu bahasa Enggano, Minangkabau, dan Wakhi. Ketiga bahasa ini dipilih karena masing-masing menghadapi tekanan serius terhadap keberlangsungan penutur aslinya, baik akibat perubahan sosial, migrasi, maupun dominasi bahasa-bahasa mayor.
Diskusi dalam panel ini juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa melalui keterlibatan komunitas dan dukungan kebijakan. Para pembicara menegaskan bahwa hilangnya sebuah bahasa bukan sekadar hilangnya alat komunikasi, melainkan juga hilangnya pengetahuan budaya yang terkandung di dalamnya—mulai dari kearifan lokal, tradisi lisan, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, isu ini beririsan erat dengan agenda pemberdayaan (empowerment) masyarakat penutur bahasa minoritas. Pelestarian bahasa memerlukan pemberdayaan komunitas lokal agar mereka memiliki kapasitas dan kesempatan setara untuk menjaga warisan bahasa dan budaya mereka sendiri.
Sesi panel ini merupakan hasil kolaborasi antara dua dosen FIB UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro dan Dr. Merry Andriani, bersama Dr. Aftab Nasir dari Lahore University of Management Sciences (LUMS). Kolaborasi lintas negara ini menjadi contoh nyata bagaimana pengembangan education for sustainability dapat diwujudkan melalui kemitraan akademik yang setara dan saling menguntungkan.
Kegiatan ini dihadiri oleh para pemerhati bahasa terancam punah dari berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Eropa, dan Australia. Kehadiran peserta dari berbagai kawasan memperlihatkan bahwa isu kepunahan bahasa merupakan persoalan global yang menuntut respons kolektif dan equal access terhadap sumber daya, riset, serta kebijakan pelestarian bahasa.
Tidak hanya dosen, sejumlah alumni UGM turut berpartisipasi dalam berbagai sesi panel CHSS 2026. Partisipasi alumni ini memperluas keterlibatan akademisi dan jejaring UGM dalam forum akademik internasional, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai salah satu pusat kajian humaniora dan budaya di kawasan.
Upaya pelestarian bahasa terancam punah sebagaimana dibahas dalam panel ini juga merupakan wujud nyata penghargaan terhadap keberagaman budaya (cultural diversity). Setiap bahasa yang bertahan hidup berarti satu khazanah identitas, pengetahuan, dan sejarah manusia yang tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Ke depan, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM berharap kolaborasi dengan LUMS dan mitra internasional lainnya dapat berlanjut ke dalam riset bersama, publikasi ilmiah, serta inisiatif pelestarian bahasa yang lebih konkret. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi komunitas penutur bahasa minoritas, baik di Indonesia maupun Pakistan.
Kontributor: Nada & Jusma, 2026
