Book Party, salah satu acara dalam rangkaian English Days 2026, sukses diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2025 di Ruang 521-522 Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Acara ini dirancang untuk memfasilitasi peserta generasi muda dalam ruang diskusi yang interaktif dan edukatif guna meningkatkan minat literasi serta pertukaran gagasan. Kegiatan ini memberi ruang bagi peserta untuk membawa dan membahas buku yang sedang atau telah mereka baca.
Untuk menyelaraskan dengan visi English Days 2026, Book Party ini mengangkat tema “Re-Enchantment: Reading Yourself Through Fantasy”. Tema tersebut dirancang untuk memantik rasa penasaran peserta sekaligus menjadi wadah bagi mereka untuk merefleksikan imajinasi dan fantasi masing-masing.
Acara dibuka dengan sesi talk show bersama dua narasumber, yaitu Achmad Munjid, Ph.D. dan Asef Saeful Anwar, S.S., M.A., yang dipandu oleh Gede Nathan Farrel Kusnadi selaku moderator. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi silent reading bersama dan ditutup dengan sesi pembagian kelompok untuk agenda sharing sessions dan games.
Salah satu peserta acara, Jehian Diego dari Sastra Inggris angkatan 2026, mengaku tertarik menghadiri Book Party karena merasa penasaran dengan topik yang dibahas, khususnya buku fantasi. Para pembicara yang dihadirkan juga menjadi daya tarik tersendiri baginya.
Menurut Jehian, pengalaman mengikuti Book Party sangat menyenangkan. Ia menilai bahwa acara ini dikemas secara menarik dan interaktif. “Kita tidak hanya duduk untuk membaca, tetapi juga berinteraksi dengan peserta lain dan pembicara,” ujarnya. Ia menyebut sesi talkshow sebagai bagian yang paling informatif, sedangkan sesi games menjadi bagian yang paling seru karena banyak hal tak terduga terjadi sehingga menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan.
Jehian juga merasa memperoleh banyak wawasan baru dari acara ini. Baginya, sesi talkshow terasa seperti tambahan kelas bersama Pak Munjid dan Mas Asef. Dari sesi tersebut, ia menyadari bahwa definisi fantasi ternyata semakin luas. Ia juga memahami bahwa fantasi bukan sekadar pelarian, melainkan memiliki korelasi dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa sastra di tengah masyarakat.
Di akhir wawancara, Jehian menyampaikan harapannya untuk English Days ke depan. “Semoga semakin menyenangkan dan semakin banyak acaranya,” ujarnya.
Penulis: Sastra Inggris

