Kamis, 6 Agustus 2026—Fakultas Ilmu Budaya UGM kedatangan Hesti Aryani, S.S., M.A. alumni Prodi Sastra Inggris Fakulta Ilmu Budaya UGM yang kini menjadi Senior Business Development Manager di JANZZ. Technology Switzerland dan Director PT JANZZ Technology Indonesia, Guru BIPA di KBRI Bern, Swiss, Pengurus APPBIPA Jerman dalam pengembangan Bahasa Indonesi di Eropa. Sebelum pada sore harinya kembali ke Swiss, Hesti meluangkan waktunya berkunjung ke FIB UGM sambutan hangat Pimpinan Fakultas menyambut kehadiran Hesti. Semoga langkah awal Hesti ke FIB dapat memperluas jejaring internasional serta meningkatkan kualitas softskill alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Perjalanan Hesti Aryani, S.S., M.A. Menuju Sukses:
Setelah lulus dari SMA pada tahun 2007, Hesti Aryani melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mengambil jurusan Sastra Inggris. Saat menjadi mahasiswa UGM, Hesti aktif dalam berorganisasi dan ikut serta dalam program pertukaran pemuda ke Rusia (2010) dan Thailand 2011). Segera setelah menyandang gelar Sarjana Sastra, Hesti memulai karier profesional sebagai dosen Bahasa Inggris dan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di Chiang Mai University, Thailand pada tahun 2012. Pada kesempatan yang sama, Hesti juga melanjutkan studi S2 dan memperoleh gelar Master of Arts dari program studi English Language and Communication dari Faculty of Humanities, Chiang Mai University, Thailand.
Perjalanan karier Hesti membawa Hesti belajar, bekerja, dan tinggal di berbagai negara selama lebih dari 15 tahun, mulai dari Asia hingga Eropa. Pengalaman mengajar kemudian berkembang ke tingkat internasional, termasuk menjadi dosen di University of Zurich, Swiss, untuk mengajar mata kuliah Sprachkurs Indonesisch. Semenjak merantau ke Swiss pada tahun 2019, Hesti melanjutkan misi Kemendikbud RI dalam mengglobalkan bahasa dan budaya Indonesia melalui berbagai program pelatihan bahasa dan budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern dan Warsawa.
Berbekal latar belakang ilmu pengetahuan di bidang bahasa dan sastra, pendidikan, komunikasi internasional, pengembangan bisnis, dan teknologi, pada tahun 2022 Hesti bergabung dengan perusahaan IT Swiss sebagai seorang Ontologist (guru bagi Artificial Intelligence) dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) di bidang ketenagakerjaan. Saat ini Hesti diberi amanah untuk mengemban tugas sebagai Direktur Utama untuk kantor perwakilan di Indonesia. Dalam menjalankan peran Hesti saat ini, Hesti tidak hanya memimpin perusahaan, tetapi juga terlibat dalam pengembangan dan pelatihan sistem AI agar dapat memberikan solusi yang bermanfaat bagi dunia kerja modern – salah satunya dengan aktif mengadvokasi pentingnya keterlibatan intelijensi manusia dalam pengembangan teknologi dan regulasi AI di panggung UN (PBB) di Jenewa.
Perjalanan Ke-BIPA-an Hesti Aryani:
Bagi Hesti Aryani, mengajarkan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Perjalanan yang dimulai lebih dari satu dekade lalu telah membawanya mengajar di berbagai negara, membangun jejaring internasional, hingga memperoleh penghargaan atas dedikasinya dalam pendidikan Bahasa Indonesia.
Perjalanan tersebut bermula pada tahun 2011 ketika Hesti berkunjung ke Thailand dalam rangka program pemuda ASEAN Youth Friendship Network. Melihat adanya permintaan pasar akan persiapan Masyarakat Ekonomi ASEAN, Hesti mengambil peluang untuk membuka kelas BIPA pertama wilayah Thailand Utara. Bersama Language Institute Chiang Mai University, ia juga menggagas berdirinya Indonesian Corner, sebuah ruang yang menjadi pusat pembelajaran bahasa, budaya, dan informasi mengenai Indonesia yang didukung oleh KBRI Bangkok. Inisiatif ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia di Thailand Utara.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk mengembangkan BIPA secara profesional dengan menempuh pelatihan sertifikasi pengajar BIPA bersama APBIPA Bali. Sepulang dari Thailand, Hesti bergabung sebagai pengajar BIPA di INCULS (Indonesian Culture and Language Learning Service) dan di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) Universitas Gadjah Mada. Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya mengenai strategi pengajaran lintas budaya dan kebutuhan pembelajar dewasa dari berbagai belahan dunia.
Pada tahun 2019, Hesti melanjutkan kiprah internasionalnya ketika mendapat kesempatan untuk menjadi pengajar BIPA di Universitas Zürich (UZH), Swiss. Di tengah pandemi COVID-19, ia berhasil mengadaptasi metode pembelajaran ke dalam format daring yang interaktif, kreatif, dan tetap berorientasi pada komunikasi nyata.
Dedikasi tersebut membuahkan pengakuan nasional ketika Hesti menerima Penghargaan Pengajaran BIPA Daring Terbaik oleh APPBIPA Pusat, sebuah apresiasi atas inovasi dan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia secara daring. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa transformasi digital dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses pembelajaran Bahasa Indonesia ke seluruh dunia.
Di luar ruang kelas, Hesti aktif berkontribusi dalam komunitas profesi BIPA internasional. Ia menjadi bagian dari APPBIPA Jerman, berkolaborasi dengan para pengajar Bahasa Indonesia di kawasan Eropa untuk berbagi praktik baik, mengembangkan jejaring akademik, serta memperkuat eksistensi BIPA di tingkat internasional.
Komitmennya dalam diplomasi bahasa juga diwujudkan melalui penugasan resmi sebagai Guru BIPA oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam penugasan tersebut, ia dipercaya mengajar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern, Swiss, serta kemudian di KBRI Warsawa, Polandia, memperkenalkan Bahasa Indonesia kepada diplomat, mahasiswa, profesional, dan masyarakat internasional sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
Kini, setelah lebih dari satu dekade mengabdikan diri dalam dunia BIPA, perjalanan Hesti telah berkembang melampaui aktivitas mengajar. Dengan latar belakang sebagai pendidik, ahli bahasa, dan praktisi kecerdasan buatan (AI), ia aktif mengembangkan inovasi pembelajaran bahasa, digitalisasi pendidikan, serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses terhadap Bahasa Indonesia di tingkat global.
Bagi Hesti Aryani, setiap kelas BIPA adalah ruang diplomasi. Setiap kosakata yang dipelajari menjadi jembatan antarbangsa. Dan setiap pembelajar yang berhasil berbicara dalam Bahasa Indonesia adalah duta baru yang membawa cerita tentang Indonesia ke berbagai penjuru dunia.
Penulis: Unit PkM, Alumni, dan CDC Fakultas Ilmu Budaya UGM
