Yogyakarta—29 Mei 2026. Jika mendengar istilah “Global China,” apa yang terlintas di benak anda? Sebagian besar mungkin akan langsung menjawab: Belt and Road Initiative (BRI). Namun, bagi Prof. Timothy Oakes dari University of Colorado Boulder, melihat Global China hanya melalui kacamata kebijakan BRI adalah sebuah penyederhanaan. Dalam kuliah tamunya di Departemen Antropologi, Prof. Oakes mengajak kita untuk menanggalkan narasi “grand strategy” dari Beijing dan mulai beralih ke perspektif human geography. Ia memandang China bukan sebagai aktor monolitik yang bergerak menurut cetak biru tunggal, melainkan sebagai sebuah “medan kekuasaan” yang kompleks. Kuliah tamu ini membedah mengapa obsesi China terhadap beton, aspal, dan kabel fiber optik sebenarnya jauh lebih dalam.
Mengacu pada pemikiran sosiolog Ching Kwan Lee, Prof. Oakes menjelaskan bahwa modal negara China bersifat Sticky Power (kekuasaan yang lengket). Berbeda dengan modal swasta Barat yang cair dan mudah ditarik, modal China “terpaku” pada pembangunan fisik yang permanen. Infrastruktur sangat penting bagi teritorialitas suatu negara; ia mampu membuat negara mengontrol masyarakat sipil melalui sumber daya, mulai dari debit air bendungan hingga volume kendaraan di jalan tol. Menariknya, Sticky Power ini adalah pedang bermata dua. Memang benar negara penerima menjadi rentan terhadap pengaruh China. Namun, karena modal ini bersifat “place-bound” (terikat pada lokasi), China sendiri menjadi rentan terhadap dinamika politik lokal. China tidak bisa begitu saja mengangkat jalan tol atau bendungan yang sudah dibangun jika situasi politik di negara penerima memburuk.
Sebagai akademisi masa depan, kita harus melihat proyek infrastruktur bukan sekadar sebagai jembatan atau pelabuhan, melainkan sebagai konfigurasi kekuasaan yang sedang menentukan siapa yang memegang kendali atas ruang, data, dan mobilitas kita di masa depan.
Penulis: Humas Departemen Antropologi
