“Terkadang untuk melihat diri sendiri, kita perlu cermin. Dan dalam beberapa hal, buku Mas Ariel berfungsi seperti itu,” ujar Ramayda Akmal dalam diskusi bertajuk Ramayda Akmal Membaca Ariel Heryanto, pada Senin, 29 Juni di Auditorium Gedung Soegondo, FIB UGM. Diskusi ini merupakan kolaborasi Penerbit KPG dengan Program Studi Magister Sastra yang menghadirkan Ramayda Akmal, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus penulis, sebagai pembicara, Ariel Heryanto sebagai narasumber, dan Giandra sebagai moderator.
Melalui pembacaannya atas buku Huruf Demi Huruf dan Nasib Publik dalam Republik, Ramayda menyoroti salah satu benang merah dalam pemikiran Ariel Heryanto, yakni upaya menempatkan Indonesia sebagai titik berangkat dalam memahami dirinya sendiri. Menurutnya, tulisan-tulisan Ariel tidak hanya menawarkan kritik terhadap cara pandang yang mapan, tetapi juga mempertanyakan mengapa produksi pengetahuan tentang Indonesia masih begitu bergantung pada perspektif dan teori yang berasal dari Barat.
Salah satu gagasan yang disoroti Ramayda adalah Asia as Method, sebuah pendekatan yang mendorong akademisi untuk membangun dialog dengan pengalaman, pemikiran, dan teori dari negara-negara Asia yang memiliki kedekatan konteks dengan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Ariel menunjukkan bagaimana relasi Indonesia dengan negara-negara seperti Tiongkok, Taiwan, Jepang, dan India dapat menjadi pijakan dalam memahami berbagai persoalan sosial dan budaya, alih-alih selalu menjadikan Barat sebagai satu-satunya rujukan.
“Kita jarang mengutip tulisan teman kita sendiri. Interaksi teoritis dan akademis di antara ahli-ahli serumpun masih kurang seimbang,” ungkap Ramayda saat menjelaskan salah satu kritik yang disampaikan Ariel Heryanto dalam karya-karyanya. Menurutnya, ketimpangan tersebut membuat cara pandang terhadap Indonesia sering kali dibentuk oleh standar yang belum tentu lahir dari pengalaman masyarakat Indonesia maupun Asia.
Persoalan itu tidak berhenti pada pemilihan teori, tetapi juga tampak dalam sistem produksi ilmu pengetahuan. Ramayda memaparkan bahwa ukuran literasi, standar publikasi, hingga cara menilai kualitas karya akademik masih banyak mengacu pada tolok ukur global yang tidak selalu sejalan dengan kondisi lokal. Melalui buku Huruf Demi Huruf, Ariel merefleksikan pengalaman pribadinya untuk menunjukkan bahwa proses belajar dan membangun pengetahuan selalu dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan sejarah yang berbeda-beda.
Menanggapi pembacaan tersebut, Ariel Heryanto mengapresiasi cara Ramayda menghubungkan gagasan-gagasannya dengan kondisi akademik saat ini. Baginya, sebuah karya akan terus hidup melalui pembacaan baru yang dilakukan oleh para pembacanya. Oleh karena itu, diskusi menjadi ruang penting untuk memperluas tafsir sekaligus mempertanyakan kembali berbagai asumsi yang selama ini diterima dalam dunia akademik.
Diskusi kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab yang membahas beragam isu, mulai dari sastra eksil, demokrasi, hingga dinamika produksi pengetahuan di Indonesia. Melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Sastra FIB UGM bersama Penerbit KPG menghadirkan ruang dialog yang mendorong refleksi kritis mengenai cara Indonesia memproduksi pengetahuan sekaligus membuka kemungkinan untuk membangun tradisi keilmuan yang lebih berakar pada pengalaman dan konteks kawasan Asia.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]
