Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UGM bekerja sama dengan Pemerintah Kota Subulussalam menggelar Seminar Nasional bertajuk “Hamzah Fansuri dan Tradisi Kepenyairan Nusantara”. Acara yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026 di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Lantai 3 FIB ini menghadirkan deretan akademisi dan pakar sastra, di antaranya Prof. Dr. Faruk, S.U., Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.
Dalam pembukaannya, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum sebagai perwakilan FIB menekankan pentingnya pengkajian sastra Melayu dalam konteks era modern. Menurutnya, sastra Melayu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan medium penting untuk menjaga ingatan budaya.
“Pengkajian sastra Melayu membuka ruang warisan sekaligus tantangan masa kini. Melalui kajian ini, kita menjaga kesinambungan dan ingatan budaya. Harapannya, seminar ini menjadi dialog yang produktif dan membuka perspektif baru antara sastra dan budaya dalam membangun bangsa yang berbudaya, beretika, dan baik,” ungkapnya.
Diskusi seminar ini membahas peran Syaikh Hamzah Fansuri yang dijuluki sebagai sang pemula puisi Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Faruk mengulas Hamzah Fansuri sebagai pembaharu syair Melayu, sedangkan Prof. Dr. Sangidu memaparkan aspek sufistik dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Prof. Sangidu menyampaikan apresiasi tinggi atas karya-karya monumental seperti Syaraabul Asyiqin yang masih terselamatkan dan terawat dengan baik hingga saat ini. Ia juga menyinggung keberadaan situs atau tempat bersejarah terkait Hamzah Fansuri yang masih utuh dan terus hidup di tengah masyarakat.
Selain pengkajian sastra klasik, dimensi perkembangan teori sosial dan sastra turut dibahas oleh Prof. Dr. Aprinus Salam melalui materinya mengenai jejak-jejak Hamzah Fansuri dalam puisi-puisi modern Indonesia. Dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan dinamika teori-teori sosial seperti teori Marxisme yang sempat dilarang pada masa Orde Baru, namun kemudian membuka ruang baru bagi perkembangan analisis sosial dan pemikiran kritis pasca-reformasi.
Melalui seminar ini, para peserta diajak untuk memahami kembali akar sastra nusantara sekaligus memetik nilai-nilai etika dan budaya lokal untuk menjawab tantangan pembangunan karakter bangsa di masa depan.
[Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman]
