• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Bahasa Sastra dan Budaya Jawa
Arsip:

Bahasa Sastra dan Budaya Jawa

Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

Rilis Berita Kamis, 29 Oktober 2026

Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan. Upaya tersebut dilakukan oleh Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) angkatan 2024. Berawal dari ketertarikannya terhadap tradisi lisan melalui perkuliahan, Ghibran berinisiatif menghidupkan kembali kesenian Gejog Lesung di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gejog lesung merupakan kesenian tradisional yang memanfaatkan bunyi ketukan lesung sebagai iringan musik. Lesung adalah alat berupa wadah kayu yang digunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras. Dalam perkembangannya, aktivitas menumbuk tersebut menghasilkan bunyi berirama yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pertunjukan kesenian. Dalam wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 22 September 2026, Ghibran menjelaskan bahwa pertunjukan Gejog Lesung biasanya memadukan ketukan lesung dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, seperti Gugur Gunung dan Prau Layar. Di Dusun Karang Tengah, kesenian ini dikenal melalui kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari.

Menurut penuturan Ghibran, keberadaan lesung memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Dusun Karang Tengah. Pada wilayah tersebut, ditemukan alat penumbuk berbahan batu, dinamakan watu lumpang yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 1632 Masehi. Tradisi menumbuk juga telah berlangsung sejak lama, salah satunya berkaitan dengan peran masyarakat Karang Tengah dalam menyediakan bahan konsumsi bagi para abdi dalem yang membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Pada masa itu, kegiatan menumbuk dilakukan untuk mengolah gabah menjadi beras. Seiring perkembangannya, alat penumbuk berbahan batu kemudian digantikan dengan lesung kayu yang dinilai lebih fleksibel untuk digunakan. Aktivitas menumbuk dengan lesung tersebut menghasilkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi itu tidak hanya mengiringi pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan semangat saat bekerja serta menjadi tontonan yang menghibur. Dari kebiasaan tersebut, kesenian Gejog Lesung kemudian berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat setempat.

Kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari terbentuk pada tahun 1965 dengan pertunjukan yang melibatkan para penumbuk lesung dan penyanyi lagu tradisional. Selanjutnya, di tahun 2000, kelompok ini mulai menghadirkan penari untuk memvisualisasikan isi lagu yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan lagu Gugur Gunung, para penari bergerak dengan menggambarkan kegiatan gotong royong. Perpaduan bunyi lesung, nyanyian, dan tarian tersebut menjadikan pertunjukan lebih beragam.

Dalam perjalanannya, Gejog Lesung Ngudi Lestari kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari ulang tahun desa, acara masyarakat, hingga acara kebudayaan. Kelompok ini juga pernah diundang tampil di Kanjengan, Imogiri, dalam rangka tradisi Kirab Siwur, yaitu prosesi mengarak siwur sebagai bagian dari rangkaian ritual nguras enceh. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membersihkan dan mengisi air pada wadah di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri. 

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kegiatan kesenian ini mengalami “mati suri” karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut mendorong Ghibran untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian kesenian di daerahnya. Ketertarikannya semakin berkembang ketika ia mengikuti mata kuliah Tradisi Lisan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Perkuliahan tersebut menjadi salah satu titik awal bagi Ghibran untuk mengenal tradisi gejog lesung lebih mendalam sekaligus mendorongnya untuk melakukan upaya pelestarian secara langsung. “Berkat adanya mata kuliah Tradisi Lisan, saya jadi terdorong untuk mengetahui lebih dalam tradisi ini serta menambah semangat saya untuk mengadakannya kembali,” terang Ghibran.

Selain berstatus sebagai mahasiswa, Ghibran aktif dalam organisasi kepemudaan Angkatan Muda-Mudi Islam (AMMI) Karang Tengah, khususnya pada divisi literasi dan edukasi. Melalui keterlibatannya dalam organisasi tersebut, ia menginisiasi pembentukan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation sebagai upaya meneruskan keberlangsungan kesenian yang sempat terhenti. Inisiatif ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda setempat sekaligus mengajak para sesepuh untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan mengenai kesenian gejog lesung. “Kami memulainya dari nol dan juga mengajak para sesepuh untuk mau mengajari. Mereka senang karena kesenian ini ada penerusnya,” tambahnya.

Upaya membangun kembali kelompok kesenian tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, Ghibran menghadapi kesulitan dalam mengajak generasi muda untuk terlibat. Meski demikian, pendekatan yang dilakukan secara bertahap mulai menumbuhkan antusiasme di antara para anggota. “Awalnya memang agak susah-susah gampang. Ada perasaan rendah diri, ada juga yang malu untuk melestarikan ini. Namun, Alhamdulillah, dengan upaya yang kuat, teman-teman jadi semangat dan bahkan ingin ada rencana latihan rutin tiap minggu,” jelas Ghibran.

Perlahan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation kembali tampil dengan memadukan ketukan lesung, nyanyian, tarian, dan kesenian ketoprak dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Penampilan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan kembali gejog lesung kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal. Upaya ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Wakil Bupati Bantul. Ke depannya, kesenian tersebut direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai program atau kegiatan kebudayaan.

Inisiatif Ghibran menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berawal dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui keterlibatan aktif generasi muda. Melalui pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan, dukungan organisasi kepemudaan, serta serta keterlibatan para sesepuh dalam pewarisan pengetahuan tradisi, tradisi yang sempat terhenti dapat kembali memperoleh ruang untuk berkembang. Upaya untuk nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menghidupkan’ budaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sekadar menjaga identitas semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

 

Penulis : Haryo Untoro

Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni

Rilis Berita Jumat, 16 Oktober 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Abhiseka Kramasisya 2026 pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini merupakan acara penyambutan dan prosesi pengukuhan mahasiswa baru Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Sebagai bagian dari rangkaian awal kehidupan perkuliahan, mahasiswa baru angkatan 2026 mengikuti kegiatan tersebut untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun kebersamaan dengan sivitas akademika program studi.

Rangkaian Abhiseka Kramasisya 2026 diisi dengan berbagai kegiatan yang memperkenalkan mahasiswa baru pada kehidupan perkuliahan. Kegiatan diawali dengan penampilan tari pembuka, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pembawa acara dan panitia. Mahasiswa baru juga mendapat kesempatan untuk mengenal pengalaman kehidupan kampus melalui talkshow bersama alumni dan sesi tanya jawab dengan dosen. Permainan interaktif turut mencairkan suasana sebelum rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi siraman sebagai salah satu bagian dari penyambutan mahasiswa baru.

Setelah rangkaian penyambutan tersebut, kegiatan berlanjut ke pentas seni yang memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk pertunjukan. Panggung tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk menampilkan minat dan bakat sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa lain, panitia, dosen, dan alumni dalam suasana yang lebih santai. Kreativitas mahasiswa baru terlihat dalam berbagai penampilan yang disajikan, salah satunya melalui teater singkat yang memadukan pesan moral, humor mengenai kehidupan kampus, dan kritik sosial. Para mahasiswa tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi juga terlibat dalam menghidupkan cerita melalui pengembangan karakter dan penyajian pertunjukan. Penampilan tersebut mendapat respons positif dari penonton melalui gelak tawa dan apresiasi yang diberikan sepanjang pementasan. Lebih dari sekadar hiburan, pentas seni juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk berani tampil, berkreasi bersama, dan mengenal satu sama lain melalui proses berkarya. Interaksi yang terbangun selama pementasan turut memperkuat suasana kebersamaan di antara mahasiswa baru.

Melalui rangkaian tersebut, Abhiseka Kramasisya 2026 tidak hanya menjadi kegiatan penyambutan dan pengukuhan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bagian dari pengenalan awal terhadap kehidupan mahasiswa di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Pengenalan tersebut tidak berhenti pada kehidupan akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berarti memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan berbagai potensi yang dimiliki. Pentas seni menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan hal tersebut kepada mahasiswa baru, bahwa bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya dipelajari melalui kegiatan akademik, tetapi juga dapat dihidupkan melalui kreativitas dan karya. Dengan demikian, kreativitas mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya memelihara, melestarikan, dan mengembangkan budaya Jawa agar tetap hidup dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Penulis : Nurul Fajri Rahmani
Editor : Haryo Untoro

Awali Program Pengabdian Masyarakat, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Gelar Pertemuan Perdana di SMA Negeri 1 Depok

Rilis Berita Rabu, 23 September 2026

Pada Kamis, 3 September 2026, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), melaksanakan kunjungan sekaligus pertemuan perdana dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok melalui program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Program PKJ dirancang untuk memperkenalkan berbagai aspek bahasa dan budaya Jawa kepada siswa, khususnya aksara Jawa, unggah-ungguh dan budi pekerti Jawa, serta pengetahuan budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Pertemuan perdana tersebut diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim yang akan terlibat sebagai fasilitator selama pelaksanaan program. Tim fasilitator terdiri atas alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu:

  1. Faradilla Putri Margaretha
  2. Endar Sasmito Aji
  3. Fauzan Adi Fadlurahman
  4. Anggit Galuh Ajar Amanah
  5. Wening Hidayati
  6. Pesdhi Sekar Hayumay
  7. Maysa Putri Fatihah
  8. Muhamad Rafi Nur Fauzy
  9. Pingky Putri Khairani
  10. Meifira Arini Pitaloka
  11. Lakshita Pradnya Dayinta
  12. Dian Patmisari.

Selain memperkenalkan tim fasilitator, pertemuan pertama juga diisi dengan materi dari dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan materi mengenai aksara Nusantara, termasuk aksara Jawa. Sementara itu, Dr. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., memberikan pemaparan mengenai penggunaan bahasa dan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat mengenal materi kebudayaan Jawa melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Pertemuan pertama ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang telah dijadwalkan. Setelah pertemuan perdana, kegiatan pada pertemuan kedua hingga ketujuh akan dilanjutkan oleh para fasilitator melalui pembelajaran dan kegiatan praktik bersama siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari kontribusi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di lingkungan sekolah, poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan, serta poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pewarisan budaya Jawa kepada generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga mendukung poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan budaya Jawa.

 

Penulis : Haryo Untoro

Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa Gelar Sosialisasi KRS dan Perkuliahan bagi Mahadaya 2026

Rilis Berita Selasa, 22 September 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) melalui Divisi Keilmuan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Kartu Rencana Studi (KRS) dan Perkuliahan bagi mahasiswa baru atau Mahadaya angkatan 2026 pada Senin, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pembekalan bagi mahasiswa baru yang mulai memasuki masa pengisian KRS pada 11–14 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa memberikan pemaparan mengenai sejumlah hal yang berkaitan dengan persiapan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dan pengoperasian Simaster, pengenalan mata kuliah, serta penjelasan mengenai kurikulum 2026. Selain aspek akademik, peserta juga memperoleh informasi mengenai Abhiseka Kramasisya 2026 serta gambaran singkat mengenai Temu Budaya Nusantara (TBN) XXXII, yang merupakan kegiatan tahunan Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia (Imbasadi).

Pemaparan mengenai kurikulum 2026 turut menghadirkan Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kehadiran Ketua Program Studi dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk memperoleh penjelasan secara lebih mendalam mengenai struktur dan ketentuan kurikulum yang akan mereka jalani. Penjelasan tersebut menjadi penting mengingat terdapat sejumlah perbedaan antara kurikulum 2026 dengan kurikulum yang berlaku bagi mahasiswa angkatan sebelumnya.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam suasana serius dan interaktif. Mahasiswa baru tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, tetapi juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengisian KRS, mata kuliah, kurikulum, serta kehidupan akademik selama menempuh pendidikan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Interaksi tersebut menunjukkan antusiasme mahasiswa baru dalam memahami berbagai hal yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru angkatan 2026 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai tata cara pengisian KRS, struktur perkuliahan, serta kurikulum yang akan dijalani. Selain memberikan pembekalan akademik, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendampingan HMJ Kamastawa dalam membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan dan dinamika kehidupan perguruan tinggi.

HMJ Kamastawa melalui Divisi Keilmuan berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa dalam menjalani proses akademik dan kehidupan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa baru membangun kesiapan, baik dalam aspek akademik maupun dalam keterlibatan mereka di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

 

Penulis : Haryo Untoro

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. “Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. “Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu,” jelasnya.

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. “Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. “Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja.”

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis : Haryo Untoro

123…12

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026
  • Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026
  • Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan
  • HMJ Kamastawa Mengabdi: Ajarkan Unggah-Ungguh Basa dan Berbagi Kebahagiaan di Sanggar Puspa Budaya
  • Belajar dari Pesisir, Antropologi Budaya UGM Gelar Fieldwork ke Wonokerto, Pekalongan

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju