Bagi sebagian besar mahasiswa humaniora, pertanyaan “Nanti setelah lulus mau jadi apa?” sering kali menjadi beban pikiran yang membayangi masa kuliah. Anggapan kuno bahwa lulusan Sastra Arab hanya akan berakhir sebagai penerjemah teks atau tenaga pendidik masih sering terdengar. Namun, paradigma lama tersebut dipatahkan secara nyata oleh Desthy Umayah. Alumni Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM angkatan 2011 ini sukses membuktikan bahwa gerbang karier lulusan sastra bisa menembus ranah tertinggi diplomasi internasional yaitu dengan menjadi seorang Diplomat di KBRI Kuwait City untuk periode penugasan 2023–2026.
Ketertarikan Desthy terhadap bahasa Arab sebenarnya sudah tumbuh sejak bangku sekolah. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa keputusan memantapkan pilihan kuliah di Sastra Arab UGM akan membawa rute hidupnya ke panggung global. UGM tidak hanya menawarkan kualitas kurikulum, tetapi juga menyediakan ekosistem akademis yang peka terhadap arah zaman.
Saat fenomena Arab Spring (gelombang revolusi di dunia Arab) bergejolak, prodi Sastra Arab UGM meresponsnya secara aktif melalui jalur diskusi ilmiah dengan menghadirkan para alumni yang berkarier di Kementerian Luar Negeri. Momen inilah yang menjadi titik balik bagi Desthy. Lewat ruang-ruang kelas kecil itulah, ia menyadari bahwa ilmu yang sedang ia pelajari adalah kunci vital untuk membedah isu geopolitik dunia.
Bagi Desthy, universitas adalah laboratorium mental. Selama di kampus, ia aktif menempa diri di Ikatan Mahasiswa Bahasa Arab (IMABA), Marching Band, hingga komunitas seni Rampoe UGM. Dari aktivitas non-akademis inilah, soft skills krusial seorang diplomat seperti kemampuan negosiasi, public speaking, kepemimpinan, dan kerja sama tim terbentuk secara organik. Berkaca dari pentingnya bekal non-akademis tersebut, Desthy mengimbau para mahasiswa untuk tidak menjadi “mahasiswa kupu-kupu” (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Menurutnya, dunia kerja tidak hanya mencari mereka yang cemerlang di atas kertas, melainkan individu yang siap berproses dan tangguh di lapangan melalui pengalaman berorganisasi.
Penggabungan antara teori di kelas dan praktik di organisasi kampus terbukti menjadi modal paling kokoh saat Desthy terjun ke kancah global. Salah satu bekal akademik dari UGM yang menjadi senjata utamanya di lapangan adalah penguasaan bahasa resmi untuk urusan birokrasi.
“Walaupun dalam pergaulan sehari-hari bahasa Arab yang digunakan adalah bahasa amiyah (bahasa pasaran) yang memiliki dialek berbeda di tiap negara, bahasa Arab fusha (bahasa resmi) yang diajarkan dosen-dosen kita selama perkuliahan di UGM justru menjadi fondasi utama yang sangat berguna dalam kehidupan profesional diplomasi,” jelasnya.
Perjalanan Desthy mengirimkan pesan berharga yang akan selalu relevan bagi generasi mahasiswa FIB UGM dari tahun ke tahun: kesuksesan di kancah global bukanlah milik mereka yang instan, melainkan hasil dari pemanfaatan ekosistem kampus secara maksimal. Kuliah di ranah kebudayaan terbukti memberikan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh disiplin ilmu lainnya.
“Buat saya, kuliah Sastra Arab bukan cuma tentang belajar bahasa, tapi juga fondasi yang bikin kita lebih peka membaca budaya, memahami perspektif orang lain, dan akhirnya membantu saya berkembang sebagai diplomat,” ungkap Desthy.
Sebagai penutup, ia meninggalkan sebuah pemantik semangat yang patut direnungkan oleh setiap mahasiswa yang saat ini masih duduk di bangku kuliah dan ragu akan masa depannya.
“Kalau kamu suka bahasa, tertarik dengan isu internasional, dan senang bertemu banyak perspektif baru, jangan pernah ragu. Dunia diplomasi bisa jadi rute karier yang seru banget untuk dijalani,” pungkasnya.
Foto: Dhesti Umayah
Penulis: Zaidan Abdurrahman
Editor: Candra Solihin



