Reuni Akbar Alumni Sejarah: Masa Lalu Selalu Aktual

“Masa Lalu Selalu Aktual” begitu lah tagline sekaligus tema dari Reuni Akbar Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Mengundang seluruh alumni Departemen Sejarah dari berbagai angkatan dan strata. Reuni akbar yang dihelat selama dua hari 18-19 Maret di kampus Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut berlangsung ramai dan meriah dengan berbagai agendanya.

Reuni akbar dibuka dengan beberapa orasi terbuka dari beberapa tokoh di bidang sejarah. Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, menyampaikan bagaimana pendekatan sejarah digunakan pada pemerintahan saat ini. Eko menjelaskan bagaimana pendekatan sejarah yang digunakan dalam membuat visi dan kebijakan strategis pada pemerintahan saat ini. Eko mencontohkan bagiamana visi Trisakti menjadi pondasi pemerintahan tentang kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan berkarakter budaya. Selanjutnya yakni visi revolusi mental yang lahir dari sebuah pembacaan masa lalu bangsa yang hanya fokus pada pembangunan pertumbuhan ekonomi tapi melupakan sisi manusia Indonesia.

“Pemerintah saat ini merupakan pemerintah yang belajar dari sejarah,” jelas Eko.

Sementara itu, orasi juga disampaikan oleh Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Hilmar Farid. Dalam orasi tersebut, Hilmar membahas tentang profesi sejarah dan masa depannya. Hilmar membuka orasinya dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang disebut sebagai sejarawan. Sebuah pertanyaan yang telah muncul sejak bertahun-tahun lalu. Menjawab pertanyaan itu, Hilmar pertama-tama membedakan sejarah sebagai disiplin ilmu dan sejarah sebagai profesi.

“Dua hal tersebut berbeda, namun pada abad ke-20 kecenderungannya untuk menyatu sangatlah besar,” jelas Hilmar.

Selanjutnya, Hilmar mengulas latar belakang bagaimana berkembangnya seseorang disebut sejarawan dari abad ke-19 hingga abad ke-20. Definisi itu berubah dari waktu ke waktu hingga saat ini. Namun, Hilmar menyimpulkan bahwa seseorang disebut sejarawan ialah orang yang menggunakan disiplin ilmu sejarah pada profesinya. “Seseorang yang berprofesi sejarah pasti adalah sejarawan, namun sejarawan belum tentu seorang yang yang berprofesi sejarah,” terang Hilmar.

Menurut Hilmar, tema dari reuni kali ini sangatlah tepat. Tema tersebut begitu baik untuk mendorong seseorang dari berbagai profesi tetapi menggunakan disiplin ilmu sejarah untuk mengembangkan sejarah. “Mimpi saya kedepannya sejarah ini bukan menjadi sub bidang yang dipelajari di univeristas, tetapi benar-benar bisa memberikan prespektif pada banyak hal,” tegasnya. (Humas UGM/Catur)

Tinggalkan pesan disini